KABUPATEN TANGERANG, RADARBANTEN.CO.ID- Sentra Edukasi Kelola Lingkungan Bersih & Asri (SELARAS) & Ecosystem, sebuah program sosial Sinar Mas Land telah banyak membantu ekonomi dan biaya pendidikan masyarakat Kampung Cicayur, Desa Pagedangan, Kabupaten Tangerang.
Program ini berbentuk Bank Sampah SELARAS, yakni program pengelolaan sampah anorganik yang dikonversi menjadi tabungan atau kebutuhan pokok masyarakat.
Bank Sampah SELARAS yang bediri setahun lalu menerima lebih dari 40 jenis sampah yang kemudian dikonversi menjadi rupiah atau disebut tabungan bank sampah.
Sebagai contoh untuk setiap satu kilogram sampah botol plastik yang sudah dibersihkan dapat dikonversi senilai Rp 6.000, untuk setiap satu kilogram kertas HVS atau berwarna putih dapat dikonversi senilai Rp 1.500, sementara untuk sampah berbagai jenis kardus dapat dikonversi senilai Rp 2.000 per kilogramnya.
Dalam perkembangannya, kegiatan ini turut melibatkan komunitas sekitar, termasuk pengumpulan sampah dari warung tetangga hingga area bantaran sungai.
Hasil dari kegiatan ini mereka tabung dan dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga hingga pembiayaan pendidikan anak.
Salah satu kisah inspiratif datang dari dua penerima manfaat program ini, yakni Huriah (53), seorang ibu rumah tangga, dan Usbandiyah (46), pelaku usaha mikro dan penjahit rumahan.
Keduanya aktif mengumpulkan dan memilah sampah rumah tangga untuk kemudian disetorkan ke Bank Sampah SELARAS.
Huriah, salah satu penerima Manfaat Program Bank Sampah SELARAS mengatakan, dirinya mengenal program ini melalui kegiatan Plastic to Food yang diadakan oleh tim CSR Sinar Mas Land.
“Saat itu, kami diperkenalkan pada konsep penukaran sampah plastik rumah tangga menjadi kebutuhan pokok seperti beras dan minyak,” ujarnya.
“Kalau di Bank Sampah SELARAS, hasil penimbangan tidak saya tukar dengan bahan pokok, melainkan saya jadikan tabungan. Alhamdulillah, dalam dua tahun saya berhasil menabung hingga Rp8 juta.” tambahnya.
Sementara itu Usbandiyah, penerima Manfaat Program Bank Sampah SELARAS menambahkan, dirinya mengumpulkan kardus, botol plastik, ember bekas, botol kaca, sampai logam.
Rata-rata hasil penimbangan per bulan bisa mencapai sekitar Rp 400.000 dan dalam 2 tahun dirinya berhasil menabung hingga Rp 8 juta di Bank Sampah SELARAS.
Selain untuk kebutuhan dapur, dana tabungan bank sampah itu ia manfaatkan juga untuk menambah biaya pendidikan anak saya di bangku kuliah.
“Alhamdulillah, dengan begitu biaya kuliah anak saya pun menjadi lebih ringan.” ujarnya.
Managing Director President Office Sinar Mas Land – Dony Martadisata mengatakan SELARAS Ecosystem merupakan bagian dari komitmen Sinar Mas Land untuk mendukung pencapaian pembangunan berkelanjutan melalui program-program pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan.
“Kami percaya bahwa pengelolaan sampah yang terstruktur dan inklusif tidak hanya berdampak positif terhadap lingkungan, tetapi juga mampu mendorong tumbuhnya kemandirian ekonomi warga. Kisah Ibu Huriah dan Ibu Usbandiyah menunjukkan bahwa pendekatan ini efektif dan relevan. Ke depan, kami akan terus memperluas jangkauan program ini agar manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak komunitas di berbagai wilayah.” ungkapnya.
Selain Bank Sampah, SELARAS Ecosystem juga memiliki beberapa subprogram, seperti Rumah Pupuk SELARAS untuk pengelolaan sampah organik menjadi pupuk.
Program Plastic to Food & Plastic to Book, yakni pertukaran sampah plastik dengan bahan pangan dan bacaan, serta Waste Management School yaitu wadah edukasi tata kelola sampah kepada pelajar dan masyarakat umum.
Selain berdampak secara ekonomi, SELARAS Ecosystem juga memberikan manfaat lingkungan yang nyata. Hingga 2024, SELARAS Ecosystem berhasil mengumpulkan lebih dari 8 ton plastik bekas melalui partisipasi lebih dari 3.700 warga.
Sebagian sampah plastik yang terkumpul kemudian diproses menjadi bahan bakar minyak (BBM jenis solar) melalui teknologi pirolisis, maupun bijih plastik untuk campuran aspal jalan (aspal plastik).
Editor: Mastur Huda











