KOTA TANGSEL, RADARBANTEN.CO.ID-Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang Selatan mengakui pemantauan kualitas udara di wilayahnya masih jauh dari optimal.
Pasalnya, Tangsel baru memiliki satu unit Air Quality Monitoring System (AQMS) yang berlokasi di German Center, BSD Serpong, dengan jangkauan terbatas hanya sekitar 5 kilometer.
Kepala Bidang Pengendalian, Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) DLH Tangsel, Carsono, menjelaskan kondisi ini membuat pihaknya hanya bisa memantau udara di sebagian kecil wilayah, yakni Kecamatan Serpong dan Serpong Utara.
“Alat AQMS yang ada saat ini radiusnya hanya 5 kilometer. Jadi pemantauan baru bisa dilakukan untuk area di sekitar BSD saja. Wilayah lain belum bisa terpantau karena memang tidak ada alatnya,” kata Carsono di kantornya, Rabu 27 Agustus 2025.
Keterbatasan alat membuat DLH Tangsel tidak dapat memberikan pernyataan resmi mengenai kualitas udara di kecamatan lain, termasuk di Ciputat Timur yang sempat ramai diberitakan mengalami polusi udara.
“Kalau ada laporan polusi di Ciputat Timur, kami tidak bisa memastikan karena tidak ada alat di sana. Bahkan BMKG di wilayah itu juga tidak punya alat khusus untuk memantau PM 2,5,” jelas Carsono.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, DLH Tangsel sudah mengusulkan pengadaan alat tambahan. Satu unit AQMS diperkirakan membutuhkan anggaran hingga Rp1 miliar.
“Kami sudah usulkan agar tahun depan ada tambahan satu unit. Idealnya, setiap kecamatan memiliki AQMS karena radiusnya hanya 5 kilometer. Tapi mengingat harganya mahal, pengadaan dilakukan bertahap,” ungkap Carsono.
Dengan penambahan alat AQMS, diharapkan pemantauan kualitas udara di Tangsel bisa lebih merata dan akurat.
Data tersebut nantinya menjadi dasar penting dalam penyusunan kebijakan pengendalian pencemaran udara.
Editor: Bayu Mulyana











