CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Penurunan harga eceran tertinggi (HET) pupuk bersubsidi tahun 2025 berdampak positif terhadap peningkatan penebusan pupuk oleh petani di Provinsi Banten.
Hingga 10 November 2025, realisasi penebusan pupuk bersubsidi di Banten mencapai 92.425 ton atau 64 persen dari total alokasi 144.590 ton.
Kondisi itu diungkapkan Manager Penjualan Banten PT Pupuk Indonesia (Persero), Teuku Reza Pratama, usai kegiatan Sosialisasi HET Terbaru dan Evaluasi Penyaluran Pupuk Bersubsidi Tahun 2025 di Aula PKP RI, Selasa, 11 November 2025.
“Penurunan HET ini mendorong peningkatan penebusan di lapangan. Sekarang sedang musim tanam November–Desember, dan datanya menunjukkan penyerapan di Banten lebih tinggi dari tahun sebelumnya,” kata Reza kepada Radar Banten.
Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor 1117/Kpts/SR.310/M/10/2025, pemerintah menetapkan harga eceran terbaru pupuk bersubsidi sebagai berikut:
- Urea: Rp1.800 per kilogram atau Rp90.000 per sak (50 kg)
- NPK Phonska: Rp1.840 per kilogram atau Rp92.000 per sak (50 kg)
- NPK Kakao: Rp2.640 per kilogram atau Rp132.000 per sak (50 kg)
- ZA: Rp1.360 per kilogram atau Rp68.000 per sak (50 kg)
- Organik Petroganik: Rp640 per kilogram atau Rp25.600 per sak (40 kg)
“Kalau sebelumnya harga lama urea Rp2.250 per kilogram, sekarang sudah turun jadi Rp1.800. Ini perlu disosialisasikan sampai tingkat PUD dan PPTS agar petani tahu harga tebus yang baru, bukan harga lama,” jelasnya.
Reza memastikan stok pupuk bersubsidi di seluruh wilayah Banten dalam kondisi aman dan mencukupi kebutuhan musim tanam.
Berdasarkan data PT Pupuk Indonesia per 10 November 2025, posisi stok tercatat 15.965 ton, terdiri atas 8.537 ton urea, 7.038 ton NPK, dan 390 ton pupuk organik.
“Total stok di gudang lini III sebanyak 8.681 ton, di PUD 1.046 ton, dan di PPTS 6.238 ton. Artinya, pasokan tersedia cukup untuk memenuhi kebutuhan petani,” ujarnya.
Lebih lanjut, Reza menyebutkan capaian distribusi pupuk di Banten dalam tiga tahun terakhir menunjukkan tren positif.
“Kalau sebelumnya Banten tiga tahun terakhir belum pernah menembus 100 ribu ton hanya pada tahun 2024, tahun ini kami yakin bisa mencapai 110 ribu hingga 115 ribu ton untuk seluruh produk,” ungkapnya.
Ia berharap kebijakan penyesuaian HET dan ketersediaan stok ini dapat mendukung peningkatan produktivitas petani di Banten.
“Kami ingin kebijakan ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh petani dan berdampak langsung pada ketahanan pangan daerah,” tutup Reza.











