LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Kasus gigitan ular berbisa masih menjadi ancaman serius bagi warga Suku Baduy di pedalaman Pegunungan Kendeng, Kabupaten Lebak. Sepanjang tahun 2025, serangan ular merenggut nyawa 11 warga Baduy.
Berdasarkan catatan Relawan Sahabat Relawan Indonesia (SRI), sedikitnya 62 warga Baduy menjadi korban gigitan ular berbisa selama 2025. Dari jumlah tersebut, 11 orang dilaporkan meninggal dunia akibat keterlambatan penanganan medis dan keterbatasan fasilitas kesehatan di wilayah adat.
Koordinator Relawan Sahabat Indonesia (RSI), Muhammad Arif Kirdiat mengatakan, korban gigitan ular tersebar di sejumlah kampung di kawasan adat Baduy.
Jenis ular yang paling sering menyerang adalah ular tanah atau Calloselasma rhodostoma yang banyak bersembunyi di semak dan ladang.
“Dari total 62 kasus gigitan ular berbisa sepanjang 2025, sebanyak 11 orang meninggal dunia,” ujar Arif kepada awak media pada Senin, 5 Januari 2026.
Arif menjelaskan, tingginya kasus gigitan ular tidak terlepas dari aktivitas keseharian warga Baduy yang mayoritas bekerja di ladang dan kebun. Aktivitas membuka lahan dengan cara tradisional membuat interaksi langsung dengan habitat ular berbisa sulit dihindari.
“Interaksi langsung dengan habitat ular berbisa tidak bisa dihindari. Ini menjadi persoalan kesehatan yang terus berulang setiap tahun,” katanya.
Ia menambahkan, data tersebut dihimpun dari Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) Ciboleger, Nangerang, dan Cijahe selama satu tahun terakhir. Menurutnya, tingginya angka kematian dipicu oleh keterlambatan evakuasi, keterbatasan ABU di puskesmas saat kejadian, serta minimnya informasi penanganan awal.
“Kami mengimbau masyarakat Baduy agar segera melapor ke petugas medis di poskesdes atau Klinik SRI jika terjadi gigitan ular, supaya korban bisa cepat mendapatkan penanganan medis,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Kanekes, Jaro Oom, menegaskan tantangan utama penanganan medis di wilayah Baduy adalah luasnya wilayah adat dan jarak antarkampung yang berjauhan.
“Wilayah Baduy itu luas dan kampung-kampungnya terpencar. Untuk keadaan darurat, jaraknya jauh. Ada yang harus ke Sobang, ada juga yang ke Cirinten. Itu bukan jarak dekat,” jelasnya.
Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, Eka Darmana Putra, memastikan ketersediaan serum antibisa ular di puskesmas penyangga wilayah Baduy kini sudah terpenuhi.
“Seluruh persediaan ABU di lima puskesmas penyangga wilayah Baduy, yakni Cisimeut, Cirinten, Bojongmanik, Muncang, dan Sobang, saat ini sudah terpenuhi,” ujarnya singkat.
Editor: Agus Priwandono











