SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Satu tahun kepemimpinan Wali Kota Serang, Budi Rustandi dan Wakil Wali Kota Serang, Nur Agis Aulia, mulai menunjukkan arah pembangunan yang difokuskan pada transformasi wajah ibu kota Provinsi Banten menjadi kota yang terbuka, hidup, dan ramah investasi.
Budi mengatakan fondasi utama pembangunan Kota Serang adalah perubahan pola pikir menuju kota yang inklusif dan toleran.
“Pertama adalah menjadikan ibu kota yang sesungguhnya. Tentunya harus terbuka dulu pemikiran bagaimana menjadi kota yang toleran agar kota ini tidak menjadi tertutup hingga menjadi kota yang mati,” ujar Budi, Sabtu, 21 Februari 2026.
Menurutnya, status sebagai ibu kota provinsi harus tercermin dari dinamika ekonomi dan keterbukaan terhadap berbagai peluang.
Ia menilai, kota yang tertutup akan sulit berkembang dan kalah bersaing dengan daerah lain.
“Pertama harus terbuka. Terbuka itu supaya investasi banyak masuk, termasuk investor. Kalau investasi masuk, otomatis peluang kerja juga terbuka,” katanya.
Budi menyebut, sejumlah proyek strategis mulai bergerak sebagai bagian dari upaya menghidupkan pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Di antaranya pengembangan kawasan Royal Baroe, penataan alun-alun, pembangunan hotel, hingga rencana masuknya pabrik-pabrik berskala besar.
“Masuk Royal Baroe, nanti ke alun-alun, hotel, lain-lain, pabrik-pabrik besar dan lain-lain. Nah itu menjadi peluang orang untuk membuka lapangan pekerjaan luas-luasnya,” jelasnya.
Ia mengatakan, geliat pembangunan tersebut bukan semata soal infrastruktur fisik, melainkan menciptakan ekosistem ekonomi yang berkelanjutan.
Dengan masuknya investasi, sektor jasa, perdagangan, hingga industri diyakini ikut terdorong.
Budi juga menyoroti tantangan bonus demografi, khususnya banyaknya lulusan sekolah yang belum terserap dunia kerja.
Menurutnya, kondisi ini harus dijawab dengan kebijakan konkret, bukan sekadar wacana.
“Itu target dari saya untuk mengurangi pengangguran. Hari ini anak-anak kita banyak yang lulus, tapi ujung-ujungnya menganggur tidak bekerja. Itu yang harus kita jawab,” tegasnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka pengangguran di Kota Serang pada 2024 tercatat mengalami penurunan, meskipun belum signifikan.
Budi mengakui capaian tersebut masih perlu ditingkatkan.
“Datanya kita punya semua. Tentunya perjuangan ini, angka penganggurannya kita turunnya memang baru sedikit di tahun 2024 kemarin. Makanya kita akan genjot itu semua, karena itu data dari BPS, bukan dari saya,” ujarnya.
Ia juga menegaskan, evaluasi pembangunan daerah harus berbasis data resmi dan terukur. Menurutnya, sejumlah indikator makro menunjukkan tren positif.
“Alhamdulillah indeks pembangunan manusianya naik, angka pengangguran turun, angka kemiskinan turun, laju pertumbuhan ekonomi juga naik. Nah ini kan fakta, bukan saya yang menilai,” katanya.
Memasuki tahun kedua kepemimpinan, Budi memastikan arah kebijakan tetap konsisten: memperkuat iklim investasi, mempercepat pembangunan kawasan strategis, serta memastikan manfaat pertumbuhan ekonomi dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Kita ingin Kota Serang ini hidup, berkembang, dan membuka peluang seluas-luasnya untuk masyarakat. Fokus kita jelas, bagaimana kota ini benar-benar menjadi ibu kota yang aktif dan produktif,” katanya.*
Editor : Krisna Widi Aria











