JAKARTA, RADARBANTEN.CO.ID – Bendahara Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai PRIMA, Achmad Herwandi, menyoroti kondisi global yang tengah mengalami tekanan berat. Konflik Rusia–Ukraina yang belum mereda serta ketegangan di jalur energi strategis seperti Selat Hormuz menunjukkan dinamika dunia yang semakin kompleks. Menurutnya, negara-negara besar kini memperkuat koalisi, menyusun strategi solid, dan menjaga stabilitas dalam negeri sebagai benteng menghadapi tekanan global.
“Ironisnya, justru di dalam negeri muncul narasi yang melemahkan, seolah Indonesia berada di ambang krisis ekonomi,” ungkap Herwandi.
Herwandi juga menyoroti munculnya seruan politik ekstrem, seperti wacana pemakzulan presiden, yang berpotensi mengguncang stabilitas nasional.
“Kita harus mengakui dengan jujur bahwa narasi seperti ini bukan hanya keliru, tetapi juga berbahaya. Ini merusak kepercayaan masyarakat, mengganggu psikologi pasar, dan membuka peluang ketidakpastian yang tidak perlu,” tambahnya.
Bendahara Partai PRIMA itu menekankan bahwa dalam ekonomi modern, persepsi sering menjadi kenyataan. Saat kepercayaan terguncang, investasi terhenti, konsumsi menurun, dan pertumbuhan ekonomi melambat. Oleh karena itu, menyebarkan narasi krisis tanpa dasar kuat sama dengan melemahkan fondasi bangsa saat seharusnya kita berdiri kokoh.
Menteri Keuangan Purbaya mencatat, hingga 31 Maret 2026, pendapatan negara mencapai Rp574,9 triliun, meningkat 10,5 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. Penerimaan pajak penghasilan (PPh) dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) menjadi bukti ketahanan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.
“Meskipun sering dinarasikan negatif, tarif BBM di Indonesia tetap stabil saat krisis energi akibat perang di Iran. Berbeda dengan beberapa negara seperti Singapura dan Amerika Serikat yang langsung menaikkan harga BBM,” ungkap Herwandi.
Herwandi menambahkan, Indonesia akan menerapkan mandatori B50 secara nasional mulai 1 Juli 2026. Langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan impor energi, memperkuat industri domestik, dan menciptakan nilai tambah dari dalam negeri.
“Ini adalah langkah berani, strategis, dan menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya bertahan di krisis global, tetapi juga berani memimpin arah perubahan,” tegasnya.
Namun, Herwandi menekankan, semua capaian hanya akan bermakna jika persatuan nasional terjaga. Tidak ada negara yang mampu bertahan menghadapi badai global jika terpecah belah. Stabilitas politik menjadi kunci agar ekonomi dapat berkembang.
“Sejarah menunjukkan bahwa bangsa besar bukan yang terbebas dari tantangan, melainkan yang mampu bersatu dalam menghadapinya,” tutup Herwandi.
Editor: Mastur Huda











