SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Pemerintah Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang, meminta agar normalisasi Sungai Ciwaka yang melintasi wilayahnya dilakukan secara total.
Pasalnya, kondisi Sungai Ciwaka di Kecamatan Ciruas mengalami pendangkalan parah. Sedimen yang terbentuk membuat sungai kerap meluap dan mengakibatkan banjir di Kecamatan Ciruas ketika hujan.
Camat Ciruas, Yuli Saputra, mengatakan bahwa sejak banjir besar, pihaknya mulai melakukan pemetaan terhadap wilayah-wilayah yang rawan banjir dan sungai yang menjadi penyebab banjir di Kecamatan Ciruas.
“Jadi ada wilayah yang rawan banjir, mulai dari BCP 2, Cigelam, dan beberapa desa lainnya. Kami lakukan pemetaan, salah satu penyebab utamanya ialah karena tidak lancarnya arus air untuk pembuangan sampai ke laut,” katanya, Selasa, 5 Mei 2026.
Ia mengatakan, ada dua sungai yang disinyalir menjadi penyebab banjir di Kabupaten Serang, yakni Kali Gendong dan Sungai Ciwaka yang saat ini mengalami pendangkalan yang cukup parah.
“Ini harus kita sikapi karena memang kondisinya sudah sangat parah. Kita pemerintah Kecamatan sudah berkoordinasi dengan Pemkab Serang dan BBWSC3 untuk melakukan normalisasi total Sungai Ciwaka yang melintas di wilayah Ciruas,” ujarnya.
Ia mengatakan, saat banjir besar yang terjadi beberapa waktu lalu, Pemkab Serang, melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Serang sudah melakukan normalisasi.
Namun karena keterbatasan anggaran yang dihadapi oleh Pemkab Serang, normalisasi bisa dilakukan tidak maksimal, yakni hanya sekitar 700 meter.
“Jadi baru sekitar 30 persen yang tertangani dari total Sungai Ciwaka Kecamatan Ciruas dari total panjang sekitar tujuh sampai delapan kilometer,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, sedimentasi Sungai Ciwaka sudah sangat memperihatinkan. Sehingga, lebar sungai yang dulunya sekitar 15 meter kini justru menyusut.
Bahkan, banyak pohon-pohon yang tumbuh di titik sedimentasi yang menandakan upaya normalisasi sungai yang dilakukan sudah sangat lama.
“Selain itu, warga juga bahkan menanami padi di lahan sungai yang mengalami sedimentasi dijadikan sawah oleh warga dan ditanami padi hingga panen. Ini berarti kondisinya sudah sangat parah dan berlangsung bertahun-tahun,” ujarnya.
Ia menuturkan, dampak akibat sedimentasi Sungai Ciwaka sangat parah dirasakan warga. Terbaru pada banjir yang terjadi di awal tahun 2026, ada sebanyak delapan desa yang terdampak banjir akibat luapan Sungai Ciwaka.
“Biasanya empat desa yang langganan banjir, tahun ini meluas hingga ke delapan desa,” pungkasnya.
Editor: Agus Priwandono











