PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Kapten kapal Arupadatu 1, Warta, yang membawa rombongan lima jurnalis dan hilang kontak setelah memotret aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK), disebut sebagai salah satu kapten kapal paling berpengalaman di Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang.
Hal tersebut disampaikan rekan sesama profesinya, Evan. Menurutnya, Warta memiliki jam terbang tinggi dan sudah puluhan tahun mengarungi berbagai perairan.
Sebelum kejadian, Evan mengaku sempat bersama Warta mengantarkan tamu dari Carita menuju Ujung Kulon menggunakan dua speed boat. Saat itu, satu kapal dikemudikan Warta dan satu lainnya dikemudikan Evan.
“Menggunakan dua speed boat, satu dikemudikan oleh Warta, satu lagi saya yang bawa. Komposisi kru kapalnya sama. Kita pulang pergi dari Carita ke Ujung Kulon,” kata Evan, Selasa, 15 September 2026.
Sepulang dari Ujung Kulon, Evan dan Warta kembali mendapatkan wisatawan yang hendak berwisata. Namun, kali ini tujuan perjalanan adalah Gunung Anak Krakatau setelah terjadi erupsi.
Evan mengatakan, rombongan yang hendak diantarnya tidak jadi berangkat pada Senin dan kemudian dijadwalkan berangkat pada Selasa pagi. Ia mengaku sempat mendapat telepon dari pihak Kompas yang hendak menyewa kapalnya untuk perjalanan pada Senin.
“Saya sempat dapat telepon juga dari Kompas, mau sewa kapal saya untuk berangkat Senin. Namun akhirnya berangkatnya di Selasa pagi. Kalaupun harus hari Senin itu berangkat, saya juga sebenarnya tidak berani karena memang cuacanya berombak,” ujarnya.
Evan mengaku sempat melihat Warta ketika hendak berangkat dari dermaga. Saat itu, Heri Bonsai yang menjadi pemandu wisata juga menitipkan sepeda motornya di rumah orang tua Evan.
“Saya kira Pak Warta ini menginap. Karena pas saya sore ke dermaga, kendaraan Heri Bonsai masih ada di rumah. Bahkan pas malam ke sana lagi masih ada. Makanya saya pikir menginap,” katanya.
Namun, setelah Evan selesai membawa rombongan dari tim Kompas TV pada keesokan harinya, kendaraan milik Heri Bonsai dan speed boat Warta belum juga kembali ke dermaga.
“Saya jam 2 sudah di dermaga dan belum kembali. Bahkan pemilik kapal yang digunakan Warta juga bertanya ke saya apakah melihat mereka atau tidak di tengah. Barulah setelah itu ramai soal hilang kontak,” ujarnya.
Evan kemudian mengaku mendapatkan informasi dari tiga nelayan yang sedang melaut saat itu. Mereka menyebut sempat melihat speed boat yang dikemudikan Warta.
“Jadi sekitar pukul 18.30 WIB, kapal terlihat sudah jalan dari Krakatau dan menuju arah pulang,” katanya.
Menurut Evan, terdapat satu area yang selama ini dikenal cukup rawan bagi kapal nelayan, terutama di jalur yang sering dilintasi kapal-kapal besar. Area tersebut disebut memiliki arus kuat dan gelombang yang lebih tinggi.
“Di area bolak-balik kapal besar. Walaupun di area Krakatau gelombangnya kecil dan tenang, di area itu justru besar terus. Makanya kita khawatir di area itu,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan mengenai area di sekitar Pulau Sertung yang dikenal sebagai titik tanpa sinyal atau blank spot. Lokasi tersebut merupakan area tempat Heri Bonsai sempat mengirimkan foto.
Evan menduga foto tersebut baru terkirim setelah rombongan keluar dari wilayah yang tidak memiliki sinyal. Menurutnya, hal itu juga menjadi salah satu informasi yang perlu diperhatikan dalam proses pencarian.
“Apalagi kan menerima pesannya sekitar pukul 18 lebih, sedangkan di foto itu gambarnya terlihat masih terang. Yang ada sinyal itu adanya di Tanjungan Krakatau Besar,” tegasnya.
Evan menambahkan, berdasarkan informasi dari nelayan lainnya, kondisi cuaca pada sore hingga menjelang malam saat kejadian cukup ekstrem. Angin kencang disertai gelombang tinggi terjadi di perairan Selat Sunda.
Di sisi lain, Evan menilai Warta merupakan kapten kapal yang sangat berpengalaman. Menurutnya, kemampuan Warta sudah teruji karena telah mengarungi berbagai wilayah perairan selama puluhan tahun.
“Beliau kita anggap seperti guru kita. Beliau sudah pernah ke Kalimantan, Lombok, Bali, Papua, sudah sering. Makanya PP dari Carita-Krakatau itu hal yang sering dilakukan oleh beliau,” tuturnya.
Selain pengalaman kapten, Evan menyebut kondisi speed boat yang digunakan Warta juga tergolong baik. Bahkan, kapal tersebut disebut sebagai salah satu speed boat yang paling muda dibandingkan kapal cepat milik Evan.
“Kondisi mesin mah bagus, tidak ada kendala,” pungkasnya.
Editor: Mastur Huda















