POLRES Metro Tangerang Kota mengidentifikasi bahwa cairan yang disiramkan kepada 14 murid Didi merupakan air keras jenis asam sulfat. Ya, asam sulfat sangat berbahaya jika terkena bagian tubuh yang rentan seperti kulit dan mata.
Dokter kulit Dermatologi Teddy Prasetyono mengatakan, sifat asam sulfat merupakan cairan korosif dan mengakibatkan kulit merasa terbakar. ”Jika diteteskan ke besi saja bisa meleleh, apalagi kulit kita yang lemah ini,” terang alumnus Universitas Padjajaran itu kepada Radar Banten di BSD Serpong, Senin (27/11).
Dijelaskannya, luka bakar akibat asam sulfat berpotensi lebih buruk ketimbang luka bakar akibat asam kuat lainnya. Hal itu dikarenakan, asam tersebut merusak bagian kulit lapisan awal (termal sekunder) akibat pelepasan panas oleh reaksi asam sulfat dengan air.
Dalam perhitungannya, sambung Teddy, larutan asam sulfat yang sama atau lebih dari 1,5 M diberi label corrosive (korosif), dan larutan lebih besar dari 0,5 M dan lebih kecil dari 1,5 M diberi label irritant (iritan). “Selain berbahaya bagi kulit dan jaringan tubuh, asam ini bisa mengganggu saluran pernapasan. Jika terhirup lama akan merusak paru-paru,” jelas dokter bedah plastik yang membuka praktik di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta, itu.
Menurutnya, bahaya asam sulfat terasa mulai dari taraf kecil seperti tidak sengaja terkena tetesan dari asam sulfat dalam jumlah yang sedikit. “Meskipun sedikit, namun dapat menyebabkan kulit terasa perih dan sakit, seperti soda api. Rasanya seperti tertusuk jarum, tapi jarumnya banyak,” terangnya.
Lalu, asam sulfat akan memberikan rasa perih dan terbakar yang sangat lama dan memiliki intensitas del (del-adalah unit rasa sakit) yang jauh lebih tinggi daripada dicubit.
“Jadi, untuk mengatasinya bisa dengan air bersih yang mengalir. Saya enggak tahu, apakah saat tes kekebalan itu tidak dibasuh atau malah dibiarkan begitu saja hingga orangnya menahan perih,” kata pria murah senyum itu.
Efek bahaya lainnya adalah asam itu akan merusak jaringan kulit dan membuat kulit terkelupas. Hal itu terjadi ketika mengalami kontak dengan asam sulfat dalam jumlah yang sangat banyak.
“Kalau sudah terkena guyuran air keras maka jaringan sel-sel kulit menjadi rusak dan juga mati. Jadi, kulit penderitanya kelihatan seperti terkelupas,” terangnya.
Hal yang paling menyakitkan lainnya dari bahaya asam sulfat adalah jika terkena mata menyebabkan munculnya iritasi pada bagian mata dan dapat menyebabkan mata menjadi terasa sangat perih dan kesakitan. “Jika hal ini dibiarkan berlarut maka mata menjadi terasa merah dan kemungkinan mengalami penurunan penglihatan. Caranya, jika terkena tetesan langsung dibasuh dengan air bersih,” tandasnya.
Dihubungi terpisah, dokter kulit lainnya, dr Edy Santoso menerangkan proses pemulihan luka akibat air keras bervariasi. “Hal itu tergantung dari lama kontaknya, kepekatan, hingga bagian tubuh mana yang terkena,” ujarnya.
Kata dia, makin lama kontak tubuh dengan air keras maka lukanya juga semakin berat. Begitu juga dengan kepekatan. Selain itu, bagian kulit yang tipis sangat rentan menyebabkan luka berat. Misalnya, wajah hingga kemaluan.
Kata dia, air keras yang mengenai telapak tangan yang kondisi kulitnya tebal dengan punggung tangan yang tipis tentu akan berbeda lukanya. Kulit yang tebal dapat tahan apabila terkena air keras sebentar, tapi kulit yang tipis tentu langsung menyebabkan luka berat.
Ia mengatakan, luka akibat terkena air keras dapat disembuhkan. Hanya saja, waktu yang dibutuhkan tentu berbeda-beda tergantung seberapa berat lukanya. Namun, bekas luka bakar akibat air keras maupun api akan tetap membekas. “Tapi, lagi-lagi tergantung kondisinya,” terang Edy. (Togar H-Rostinah/RBG)










