SERANG – Pemerintah menargetkan pembangunan fisik reaktivasi jalur kereta api Rangkasbitung-Saketi-Labuan akan dimulai pada 2019. Saat ini pembangunan rel tersebut baru tahap penyelesaian analisis mengenai dampak lingkungan (amdal).
Humas Balai Teknis Perkerataapian Jakarta-Banten Ditjen Perkeretaapian Kemenhub Samsuri mengatakan, ada tiga tahapan yang dijalankan untuk mengaktifkan kembali rel kereta api Rangkasbitung-Saketi-Labuan. Tiga tahapan tersebut, yakni prakonstruksi, konstruksi, dan operasional kereta api. “Target kita konstruksi dimulai 2019,” katanya usai menghadiri rapat koordinasi reaktivasi jalur kereta api Rangkasbitung-Saketi-Labuan di aula Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Banten, Jumat (26/1).
Untuk tahap prakonstruksi, pihak Kemenhub masih menunggu penyelesaian amdal dari Pihak Pemprov Banten. “Sejauh ini persiapan amdal sudah mendekati. Semoga dalam awal Februari ini bisa keluar. Setelah izin amdal baru ada langkah selanjutnya,” kata Samsuri.
Saat ini pihaknya mengaku masih menunggu amdal yang dikeluarkan pihak Pemprov Banten. “Kalau dari provinsi sudah turun (izin amdal-red), kami bisa memberikan informasi lebih detail dan luas. Sekarang koordinasi saja,” katanya.
Namun, ia mengaku, sejauh ini sudah melakukan sosialisasi pada warga Kabupaten Pandeglang dan Lebak yang akan dilalui jalur tersebut. Sosialisasi dilakukan karena harus ada penertiban pada sepanjang jalur rel kereta api. “Kita bersama lingkungan hidup (Dinas Lingkungan Hidup-red) sudah melakukan sosialisasi. Jadi, sosialisasi sudah kita lakukan kepada masyarakat dan aparat kelurahan, kecamatan, dan kabupaten terkait, yakni Pandeglang dan Lebak,” ujarnya.
Pada rapat tersebut turut hadir Kepala Biro Bina Infrastruktur dan Sumber Daya Alam Setda Provinsi Banten Nana Suryana dan Sekretaris Dishub Banten Herdi Jauhari. Namun, kedua pejabat tersebut enggan memberikan komentar ketika hendak diwancarai. Mereka berdalih belum melaporkan kepada Gubernur Banten Wahidin Halim sehingga tidak berani angkat bicara terkait proyek rel kereta api sepanjang 166,45 kilometer tersebut.
Belum lama ini, Gubernur Wahidin telah mengirim surat kepada Kemenhub. Surat tersebut berisi tentang percepatan jalur kereta api yang terbagi menjadi tiga jalur. Yakni, jalur Rangkasbitung-Saketi-Labuan (56,45 kilometer), jalur Saketi-Malingping-Bayah (100 kilometer), dan jalur Cigading-Anyer Kidul (10 kilometer). Bahkan, surat tersebut sudah dibalas oleh Kemenhub.
Dalam surat balasannya, Kemenhub menyampaikan tiga hal. Pertama, Kemenhub menyatakan bahwa kegiatan reaktivasi sedang pada tahap menyelesaikan dokumen perencananaan teknis yang memerlukan tiga detail engineering design (DED) dan amdal. Rencana selanjutnya, yaitu penertiban jalan pada segmen Rangkasbitung-Pandeglang (18,6 kilometer) pada 2018, dan Pandeglang-Labuan (36,9 kilometer) pada 2019. Poin ketiga, bila semua persyaratan sudah terpenuhi, rencana pembangunannya dimulai pada 2019 untuk segmen Rangkasbitung-Pandeglang dan 2020-2021 untuk segmen Pandeglang-Labuan.
Dalam surat tersebut, Kemenhub juga meminta agar Pemprov Banten memfasilitasi untuk percepatan penertiban izin lingkungan dan penertiban lahan sepanjang jalur kereta api. (Supri/RBG)










