PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Psikolog Kabupaten Pandeglang Rika Kartikasari mengatakan dalam satu hari menangani lima korban kekerasan yang dilaporkan kepada Unit PPA Polres Pandeglang. Kelima korban melaporkan tindakan kekerasan dilakukan oleh orang terdekatnya baik itu teman, pacar, ayah tiri, dan tetangganya.
Menurut Psikolog Kabupaten Pandeglang Rika Kartikasari, di Kabupaten Pandeglang dalam satu hari menangani lima korban.
“Kasusnya berbeda-beda. Ada yang memang kekerasan fisik, pencabulan, dan persetubuhan,” katanya kepada RADARBANTEN.CO.ID, di Kantor Polres Pandeglang, Selasa, 16 April 2024.
Namun, Rika menegaskan, Ia tidak bisa memberikan detail hasilnya. Tetapi pemeriksaan secara psikologis sudah dilakukan.
“Kemudian memang kalau dibandingkan sebelum kejadian, ada perbedaan kondisi psikologis dari korban-korban ini yang sudah diperiksa,” katanya.
Pada hari ini, lima pendampingan kalau dihitung tahun 2024 ini sudah 15 korban. Terhitung dari bulan Januari sampai April ini.
“Dari lima kasus tadi itu ada korban persetubuhan ya, dia disetubuhi oleh orang yang memang dikenal,” katanya.
Sedangkan satu lagi itu kekerasan fisik, cowok dengan cowok di banting. Kalau itu enggak tampak kondisi psikologisnya berubah.
“Kalau yang tampak itu tadi, yang korban persetubuhan, sudah terlihat depresi juga,” katanya.
Kalau yang depresi itu korban persetubuhan dilakukan oleh satu orang dikenal dari salah satu kecamatan. Pelakunya satu orang, cuman mungkin karena dia enggak nyangka akan disetubuhi.
“Kemudian juga kejadiannya juga tidak ada orang lain. Enggak ada yang nolong jauh dari permukiman, kondisi psikologisnya terganggu,” katanya.
Jadi, korban itu usianya 14 tahunan. Masih sekolah anaknya juga dan diketahui oleh orang lain.
“Jadi dia malu atau gimana ada video tersebar,” katanya.
Lebih lanjut, Rika mengungkapkan, ketika sudah ditangani, dirinya mempunyai hasil.
“Selain pendampingan di hukum, kita kasih laporan segala macam. Kalau dia menunjukan gejala, belum membaik dalam tanda kutip, ya kita pendampingan ke rumahnya,” katanya.
Setelah pendampingan ke rumahnya, ia bersama dokter memberikan terapi. Kalau sampai ngedrop banget jarang.
“Maksudnya sampai ia tidak beraktifitas. Memang perlu waktu, sampai gangguan jiwa enggak pernah,” katanya.
Ada juga, dikatakan Rika, sepertihalnya kasus tahun kemarin ketika lingkungannya tidak aman. Ia akan merekomendasikan kepada Kementerian Sosial untuk tinggal di panti rehab.
“Atau tempat yang aman bagi korban. Kita rekomendasikan kepada Kementerian untuk diamankan di panti rehabilitasi,” katanya. (*)
Editor: Bayu Mulyana











