TANGERANG,RADARBANTEN.CO.ID-Musisi senior Zulfikar Digo alias Digo DZ menggelar roadshow di empat kota yakni Serang, Kota Tangerang, Bandung dan Jakarta. Hal itu dilakukan dalam rangka melaunching album terbarunya yakni Pancasila 2022, Jumat 28 Juni 2024 malam.
Musisi senior Digo DZ menjelaskan, Kota Tangerang merupakan daerah kedua setelah Serang yang dikunjunginya dalam roadshow tersebut.
Adapun latar belakang dirinya menggarap album tersebut karena melihat kondisi perkembangan jaman yang kini sudah mulai jauh dari nilai pancasila. Dimana nilai luhur pancasila sudah mulai luntur dilakangan anak muda khususnya generasi muda (GenZ) akibat perkembangan teknologi.
“Kita melihat kondisi yang ada sekarang akhirnya ada satu sikap. Ya mungkin kita hanya bisa melakukan apa yang kita punya (berkarya-red). Dari faunding father dan teman teman juga banyak masukan untuk kembali ke Pancasila,” ujarnya.
Digo mengatakan, berkat saran dan masukan tersebut dirinya menyadari jika Pancasila memegang peranan penting dalam kondisi perkembangan zaman dan perkembangan teknologi saat ini.
“Lebih ke pesimis ya. Kita tanya mereka, mungkin karena pendidikan. Dulu kita ada mata pelajaran pendidikan moral pancasila ( PMP), sekarang sudah tidak ada,” imbuhnya.
“Khusus mengenai media sosial, memeng harus ada di depan. Tapi Ini kan bukan dagangan. Anak muda terutama saat ini etika dan adab kepada orang tua saja sudah kurang. Ini yang harus dipupuk kembali,” tambahnya.
Digo berharap, dengan direalesenya album yang berisi enam lagu tersebut diharapkan para GenZ tetap ingat dan selalu mengamalkan nilai nilai pancasila dalam kehidupan sehari hari di tengah gempuran perkembangan teknologi.
Anggota DPRD Kota Tangerang Andri S Permana mengatakan, mengatakan bahwa ruang seperti ini sangat penting terutama bagi generasi Z dalam memaknai pancasila.
“Hari ini lintas generasi dari teman-teman generasi milenial memberikan banyak nilai-nilai terutama nilai berdaulat dan akhirnya mereka (gen Z) bisa langsung berinteraksi tidak hanya mereka mendapatkan literasi dari kalangan digital,” ujarnya.
Menurutnya, problem dari generasi Z hari ini tidak pada konteks edukasi. Namun karena proses edukasi di era digitalisasi ini jauh lebih mudah didapatkan.
“Mereka jauh lebih well educated, karena akses teknologi jauh lebih mudah sebagai tools mereka. Tetapi problemnya adalah tidak semua hal terutama informasi yang mereka dapat dari kanal digital itu menyertakan dengan bukti-bukti yang kongkrit, sebab setiap generasi membutuhkan pembuktian,” kata Andri.
Andri S Permana menyatakan problematikanya ada pada pendekatan pancasila hari ini yang terlalu akademis sehingga pancasila hanya dimaknai oleh sila-sila yang ada dalam pancasila tersebut. (*)
Reporter: Angger Gita Rezha
Editor: Agung S Pambudi











