PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Rohaendi, seorang seniman asal Pandeglang, mengungkapkan berbagai tantangan yang dihadapi dalam mengembangkan kesenian dan kebudayaan di kalangan generasi muda era teknologi digital.
Menurut Rohaendi, arus globalisasi dan kemajuan teknologi membuat generasi muda cenderung melupakan akar budayanya. Hal ini terjadi karena minimnya pengetahuan generasi muda tentang budaya.
“Kaum millenial atau muda itu mengapa dia jauh dari budayanya, pertama dia tidak tahu, supaya mereka tahu, maka pemerintah dalam rangka pelestarian kebudayaan harus mengenalkan budaya kepada kaum generasi muda,” ungkapnya, Senin 30 Desember 2024.
“Jadi kita jangan ujuk-ujuk menyalahkan kaum muda atau millenial yang so ke barat-baratan, ya karena di handphonenya yang sering dilihatnya kebaratan, ya wajar mereka mengikuti, seperti yang ada Tiktok dan sebagainya,” sambungnya.
Ia mengatakan, pendekatan kreatif diperlukan agar seni budaya tetap relevan dan menarik bagi kaum muda.
“Untuk membuat kaum millenial atau anak muda tertarik mempelajari budaya lokal, kita harus mengemasnya dengan cara yang menarik. Melestarikan budaya itu bukan berarti menghidupkan tradisi kuno yang sudah mati, tapi menghadirkannya dalam bentuk yang sesuai dengan zaman,” kata Rohaendi.
Ia menegaskan pentingnya kompromi antara budaya lokal dan perkembangan zaman agar seni budaya tetap hidup di tengah arus modernisasi.
Rohaendi juga menambahkan faktor-faktor rendahnya antusiasme generasi muda terhadap budaya lokal, yang disebabkan oleh dominasi budaya asing.
“Pertunjukan kesenian luar lebih sering dilihat dan didengar oleh anak-anak dibanding budaya lokal. Solusinya, budaya lokal juga harus dimasifkan agar tampil di hadapan anak-anak,” jelasnya.
Ia berharap upaya ini dapat memperkuat kecintaan generasi muda terhadap seni budaya lokal di tengah derasnya pengaruh globalisasi.
Editor : Aas Arbi











