SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Dompet Dhuafa Farm lakukan panen perdana di Greenhouse Sentra Seledri, di Kampung Cimaung Kadu, Desa Sukaraja, Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang, Senin, 10 Februari 2025.
Dompet Dhuafa mulai mengembangankan Dompet Dhuafa Farm pada 2019 dengan mengusung konsep edufarm.
Selain sebagai sentra pemberdayaan, Dompet Dhuafa Farm juga disiapkan untuk menjadi pusat pembelajaran tentang peternakan.
Seiring berjalannya waktu, menginjak tahun ke-5 dan regulasi pemerintah daerah tempat Dompet Dhuafa Farm berada, maka orientasi berubah dari peternakan menjadi pertanian, serta tetap dengan nama yang sama, yakni Dompet Dhuafa Farm.
Pada awal Januari 2024 diputuskan dan dibangun greenhouse seledri seluas 2.000 meter persegi, yang menjadi greenhouse sentra seledri terbesar di Banten.
“Mungkin di Indonesia, khusus seledri yang berdiri di atas lahan seluas 1,5 hektare di Kampung Cimaung Kadu, Desa Sukaraja, Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang,” kata Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Banten, Mokhlas Pidono.
Seledri dipilih karena kebutuhan seledri di Banten sejauh ini masih dipasok dari luar Banten. Pemasok terbesar adalah Bogor dan Ciwidey, Bandung.
“Di Serang saja, data dari pedagang pasar, kebutuhan seledri mencapai lebih dari 1 ton dalam sehari. Sementara, sentra seledri Dompet Dhuafa Farm seluas 2.000 meter persegi, baru mampu menyuplai antara 150-200 kilo per hari,” terangnya.
Ia menjelaskan, visi sentra seledri Dompet Dhuafa Farm jelas untuk membantu kebutuhan seledri di Banten, harus dipenuhi oleh pertanian di Banten, dikerjakan oleh SDM lokal.
Sehingga, ke depan, bertumbuh petani-petani seledri, penerima manfaat Dompet Dhuafa Farm yang dimandirikan.
“Karena konsep program bukan murni bisnis, namun pemberdayaan dengan fondasi philantropreuneur. Sebuah jalan pemberdayaan filantropi gagasan inisiator Dompet Dhuafa. Agar bukan hanya pemberdayaan tetapi jiwa wirausaha perlu ditanamkan dalam diri mustahik penerima manfaat zakat,” jelasnya.
Sentra seledri pada praktiknya akan memberdayakan banyak penerima manfaat, di antaranya, enam penerima manfaat langsung, 16 penerima beasiswa hasil pemberdayaan Dompet Dhuafa, dan delapan orang penerima manfaat pemasaran hasil produksi sentra seledri Dompet Dhuafa Farm.
Mahasiswa penerima manfaat wajib magang selama setahun dan tinggal di Dompet Dhuafa Farm untuk belajar.
Sehinggga, ketika lulus akan diberikan inkubasi greenhouse seledri skala rumahan dengan ukuran 7×10 meter persegi.
Begitupun penerima manfaat, hanya dibolehkan berada di Dompet Dhuafa Farm maksimal dua tahun, untuk kemudian diinkubasi dan diberikan bantuan greenhouse di lingkungan rumahnya berukuran 7×10 meter persegi dengan konsep plasma seledri dari inti program yang ada di Dompet Dhuafa Farm.
“Dengan demikian, bukan tidak mungkin 4-5 tahun ke depan, kebutuhan seledri Banten bisa dipenuhi oleh Dompet Dhuafa Farm melalui inti dan plasma greenhousenya, sebuah visi yang perlu support dari semua pihak,” tuturnya.
Sementara itu, mewakili Dinas Pertanian Banten, Supriadi, mengapresiasi kehadiran Dompet Dhuafa Farm.
Menurutnya, ini juga membantu untuk memenuhi kebutuhan program makan bergizi gratis di Banten.
“Selain itu juga membantu para petani-petani lokal untuk bisa bersaing dengan petani luar dalam hal pertanian. Kami juga berharap, Dompet Dhuafa juga menyediakan komuditas-komuditas lain, sehingga kebutuhan-kebutuhan untuk makan gizi gratis yang ada di Provinsi Banten, kita tidak fokus mencari keluar,” harapnya.
Di akhir kegiatan, dilakukan simbolis panen seledri yang dilakukan oleh Ketua Dewan Pengawas Yayasan Dompet Dhuafa Republika, Rahmad Riyadi; Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Banten, Mokhlas Pidono; tokoh masyarakat Banten, Embay Mulya Syarief; perwakilan Dinas Pertanian Provinsi Banten, Supriadi; Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Serang, Suhardhjo; dan tamu undangan lainnya.
Editor: Agus Priwandono











