RADARBANTEN.CO.ID – Suara debur ombak terdengar lebih nyaring dari biasanya. Langit berwarna biru muda, dan angin laut mengalir lembut, menyapa sekelompok mahasiswa berseragam lapangan yang perlahan membentuk barisan di sepanjang bibir pantai. Di tangan mereka tergenggam kantong-kantong sampah dan semangat yang tak kalah besar dari luasnya lautan di depan mereka.
Di tengah geliat wisata yang mulai menggeliat di Pulomerak Kecil—sebuah kawasan ekowisata di Desa Mekarsari, Kecamatan Pulomerak, Cilegon—ada sekelompok anak muda dari Universitas Bina Bangsa (UNIBA) yang hadir dengan satu misi: menjaga keindahan itu tetap lestari. Mereka adalah KKM Kelompok 19, yang dalam program kerja hari ketiganya, memilih untuk mengubah kata “pengabdian” menjadi tindakan nyata melalui kegiatan “Beach Clean Up”.
Pulomerak Kecil bukan hanya pantai. Ia adalah ruang hidup bagi warga, rumah bagi biota laut, dan harapan baru bagi ekonomi lokal yang tengah tumbuh dari sektor pariwisata. Namun, di balik keindahannya, tersembunyi permasalahan lama: sampah. Limbah plastik dan sisa-sisa makanan menjadi pemandangan yang semakin akrab, terutama setelah akhir pekan panjang.
“Awalnya kami pikir tempat ini sudah bersih, karena memang dari kejauhan terlihat cantik. Tapi setelah ditelusuri, ternyata di balik semak dan bebatuan banyak sampah menumpuk,” ujar Dony Ramadiansyah, Ketua KKM Kelompok 19, sambil memungut bungkus makanan ringan dari pasir, Rabu, 9 Juli 2025.
Bersama teman-temannya, Dony menyisir setiap sudut pantai. Botol plastik, potongan styrofoam, sedotan, dan puntung rokok dikumpulkan satu per satu. Mereka tidak sekadar memungut, tapi juga mengedukasi, mengajak pengunjung yang lewat untuk ikut menjaga kebersihan. Beberapa wisatawan, bahkan anak-anak kecil, dengan antusias membantu mereka memungut sampah yang tercecer.
Bagi mereka, ini bukan hanya soal sampah. Ini adalah bagian dari pendidikan karakter dan empati—sesuatu yang tidak selalu diajarkan di ruang kelas, tetapi tumbuh dari pengalaman lapangan.
“Kegiatan ini bukan cuma seremonial. Ini adalah bagian dari proses pembelajaran kontekstual. Mahasiswa belajar bahwa menjaga alam adalah bagian dari tanggung jawab sosial mereka,” tutur Raden Irna Afriani, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), yang dengan sabar mendampingi para mahasiswa sejak awal program KKM berlangsung.
Ia percaya, ketika mahasiswa menyentuh langsung realitas, mereka tidak hanya mengubah lingkungan—tetapi juga diri mereka sendiri.
Di tengah panas matahari yang mulai menyengat, satu per satu karung sampah mulai terisi penuh. Namun, yang paling berharga dari hari itu bukanlah jumlah sampah yang dikumpulkan, melainkan kesadaran baru yang ditanamkan. Bagi pengunjung yang melihat, bagi warga yang ikut membantu, dan bagi mahasiswa yang mengalami langsung prosesnya.
“Kalau bukan kita, siapa lagi?” ucap Siska, salah satu anggota kelompok, saat menyapu keringat dari dahinya. “Kami sadar, bersih-bersih ini bukan solusi permanen. Tapi ini bisa menjadi pemantik, membuka mata banyak orang bahwa menjaga lingkungan bukan tugas satu pihak saja.”
Respons positif pun datang dari berbagai pihak. Beberapa warga lokal dan pengunjung wisata menghampiri para mahasiswa, memberikan apresiasi, bahkan ikut membantu memungut sampah bersama.
“Saya jadi malu sendiri, biasanya suka buang bungkus makanan sembarangan,” ujar seorang pengunjung remaja yang mengaku terinspirasi oleh aksi mereka. “Lain kali saya bakal bawa kantong sampah sendiri.”
Pulomerak Kecil hari itu tidak hanya dibersihkan secara fisik, tetapi juga sedang dibersihkan dari kebiasaan buruk, dari apatisme, dari anggapan bahwa menjaga alam adalah tugas ‘orang lain’.
Usai kegiatan, mahasiswa menyempatkan diri berbincang dengan pengelola wisata dan warga sekitar, berbagi ide soal tata kelola sampah dan peluang edukasi lingkungan yang bisa digarap bersama.
“Aksi ini harus jadi awal, bukan akhir,” tegas Dony. Ia dan rekan-rekannya berharap akan ada kolaborasi lanjutan antara masyarakat, pengelola wisata, pemerintah, dan perguruan tinggi untuk menjaga Pulomerak Kecil tetap bersih dan lestari.
Karena mereka percaya, pantai yang indah tidak hanya soal pasir putih dan air jernih, tapi juga tentang kesadaran bersama untuk menjaganya.
Editor: Aas Arbi











