Tanggal 21 Mei 1998 selalu punya tempat sendiri dalam ingatan bangsa ini. Tanggal ketika Presiden Soeharto menyatakan berhenti sebagai presiden. Menutup kekuasaan Orde Baru yang bertahan selama 32 tahun.
Rezim yang dulu sangat kuat. Kokoh. Seperti tidak mungkin runtuh.
Tapi sejarah mengajarkan: tidak ada kekuasaan yang benar-benar abadi.
Setelah itu Indonesia berubah sangat cepat.
Presiden berganti. Sudah delapan kali pergantian kepemimpinan nasional sejak reformasi bergulir. Suasana politik berubah. Cara orang berbicara berubah. Cara orang mengkritik penguasa juga berubah.
Dan seperti biasa, setiap pergantian zaman selalu melahirkan kalimat-kalimat yang tidak pernah benar-benar mati.
“Enak jaman ku toh…”
“Bagus Presiden A…”
“Lebih baik Presiden B…”
Dan seterusnya.
Kalimat-kalimat itu terus berpindah mulut. Bergantung siapa yang sedang berkuasa dan siapa yang sedang kecewa.
Saya pribadi sedang berusaha untuk tidak terlalu terjebak dalam perdebatan itu.
Saya khawatir, kepala saya sendiri justru terlalu sibuk menyandingkan harapan dan kenyataan yang sering kali tidak berjalan beriringan.
Saya tidak mau hanya sibuk membanding-bandingkan penguasa, jadi lupa bercermin pada diri sendiri.
Berdebat sampai kepala berkeringat. Urat leher keluar. Seolah paling peduli pada nasib bangsa.
Sementara mengerjakan tugas diri sendiri biasa-biasa saja.
Asal kerja.
Asal terlihat kerja.
Tidak sampai kepala berasap. Tidak sampai otot berpikir ikut keluar.
Padahal reformasi dulu tidak diperjuangkan hanya supaya presiden berganti.
Ada harapan besar yang dibawa ke jalan-jalan. Ada kemarahan. Ada keberanian. Ada darah. Ada mahasiswa yang pulang tinggal nama.
Saya tidak akan membahas satu per satu agenda reformasi. Biarlah masing-masing pembaca yang mengingat dan menilai sendiri: mana yang sudah berjalan, mana yang belum, mana yang terasa maju, mana yang mungkin justru berjalan di tempat. Atau mungkin ada yang malah bergerak ke arah berbeda.
Menilai dan mengkritik penguasa itu penting.
Tapi menilai diri sendiri juga penting.
Supaya telunjuk kita tidak selalu paling tajam ke depan.
Saya justru sedang memikirkan perubahan Indonesia lewat hal-hal kecil. Yang terlihat sepele. Tapi sebenarnya menunjukkan perubahan zaman yang luar biasa.
Pekerjaan yang serba online.
Pelayanan yang makin digital.
Dan tentu saja: belanja online.
Hal kecil yang saya lihat hampir setiap hari. Di kantor sendiri. Di kantor orang lain. Bahkan di rumah sendiri.
Kemarin, saat saya agak lama nongkrong di pos satpam, ada satu pemandangan yang sekarang hampir tidak pernah absen.
Motor kurir.
Datang silih berganti.
Dan sebenarnya bukan cuma kemarin. Hari-hari sebelumnya juga sama.
Pagi. Siang. Sore. Malam.
Mengantar paket dengan ukuran apa saja. Kecil, sedang, besar. Nama penerimanya juga macam-macam. Kadang satu orang bisa menerima dua sampai tiga paket sehari.
Saya sering memperhatikan itu.
Betapa cepat Indonesia berubah.
Dulu orang pergi ke pasar.
Lalu pindah ke toko modern.
Sekarang cukup rebahan sambil pegang handphone.
Klik.
Checkout.
Tunggu paket datang.
Bahkan generasi sekarang bisa membeli barang mahal tanpa pernah menyentuh barangnya sama sekali.
Sementara generasi saya tumbuh dengan prinsip: sebelum beli harus lihat langsung. Pegang langsung. Kadang ditawar dulu supaya terasa sah sebagai pembeli Indonesia.
Keberanian generasi setengah abad dengan generasi Z ternyata berbeda level.
Anak-anak sekarang santai sekali.
Barang belum datang dua tiga hari, mereka masih bisa tidur nyenyak.
Saya pernah punya pengalaman berbeda.
Hari ketiga paket belum datang, saya mulai curiga.
Hari keempat mulai sering buka aplikasi pengiriman.
Hari kelima mulai merasa jadi korban modernisasi. Hari keenam mulai berpikir mungkin paket saya dibajak di tengah jalan.
Yang paling lucu, setiap melihat satpam berjalan membawa paket, jantung ikut berharap.
Walaupun kadang ternyata paket orang lain.
Di situ saya merasa: reformasi ternyata bukan cuma mengganti presiden.
Indonesia juga berubah lewat kebiasaan-kebiasaan kecil.
Cara orang belanja berubah.
Cara orang percaya berubah.
Cara orang menunggu berubah.
Bahkan cara orang merasa bahagia juga berubah.
Suara motor kurir yang hilir mudik di depan pos satpam itu sebenarnya adalah suara perubahan zaman.
Reformasi mungkin belum membuat semua orang puas.
Masih banyak kritik. Masih banyak kekurangan. Masih banyak hal yang terasa belum selesai.
Tapi setidaknya bangsa ini terus bergerak. Dan mungkin memang begitulah hidup.
Tidak pernah benar-benar ideal.
Tidak pernah benar-benar selesai.
Karena yang paling sulit setelah berhasil menumbangkan sebuah kekuasaan panjang, kadang justru adalah menumbangkan ego dalam diri sendiri. (*)










