Hari ini, Satu Asa Coffee genap berusia 31 hari. Kalau manusia, umur segitu masih digendong. Satu Asa malah sudah banyak maunya.
Tentu kami ingin tempat ini menjadi kedai kopi yang nyaman. Orang datang, memesan minuman, menikmati makanan, mengobrol, lalu pulang dengan perasaan senang.
Tetapi sejak awal, kami tidak ingin Satu Asa berhenti sampai di situ. Kami ingin tempat kecil ini menjadi community hub. Tempat orang bertemu dan mengobrol, bertukar gagasan, memperlihatkan karya, atau menemukan orang lain yang ternyata punya keresahan serupa.
Sebagian sudah mulai dilakukan. Sebagian lagi masih menjadi bahan obrolan setelah kedai tutup. Ada juga yang sudah ditulis, tetapi belum sempat dijalankan. Selebihnya harus menunggu waktu. Namanya juga baru 31 hari.
Sejak awal kami membuat panggung kecil berukuran 3 x 5 meter. Namanya Panggung Asa. Ukurannya memang tidak besar. Kalau satu grup musik membawa terlalu banyak peralatan, alatnya mungkin mendapat tempat, tetapi pemainnya belum tentu.
Mereka harus pandai mengatur kaki agar tidak menginjak kabel, pedal, atau kaki pemain lain. Tapi kalau nanti diperlukan, bagian depannya masih bisa diperluas.
Panggung itu tidak hanya disiapkan untuk musik. Kamis malam kami khususkan untuk seni budaya Nusantara. Keputusan itu ternyata tidak langsung disambut gembira. Ada yang sejak awal kurang setuju. Menurut mereka, seni tradisi tidak cocok ditampilkan di kafe. Namanya juga kafe, mestinya ada musik modern, lagu lagu populer, dan penampilan yang membuat pengunjung betah.
Masuk akal juga. Orang datang ke kafe biasanya ingin mendengar lagu yang sudah dikenal. Baru petikan gitar pertama, mereka sudah tahu judulnya. Ketika masuk bagian reff, bisa langsung ikut bernyanyi, meskipun kadang hanya hafal separuh lirik.
Penampilan perdana Kamis lalu justru seni silat dari Terumbu Banten. Setelah itu ditutup dengan debus. “Debus di kafe?” Pertanyaan itu muncul beberapa kali. Saya bisa memahami keraguannya. Orang biasanya datang ke kafe untuk mencari kopi susu, camilan, musik, atau tempat berfoto. Bukan untuk melihat golok dan adegan yang membuat sebagian orang menutup mata.

Kamis malam itu pertunjukan tetap berjalan. Perempuan dan laki-laki muda naik ke panggung. Termasuk anak-anak. Mereka memperagakan gerakan silat. Malam itu tidak terdengar gitar listrik atau lagu pop yang sedang ramai di media sosial. Yang terdengar justru kendang dan lengkingan terompet. Dari area parkir, panggung itu sudah terlihat. Beberapa pengunjung yang baru tiba sempat melihat ke arah panggung. Setelah itu kendaraannya berputar. Balik kanan. Tidak jadi turun, apalagi memesan kopi.
Besoknya, cerita itu disampaikan kepada saya. “Banyak yang enggak jadi ngopi.”
“Kenapa?” tanya saya.
“Yang di panggung enggak seperti kafe.”
Saya jawab, tidak apa-apa. Bukan berarti saya tidak memikirkan penjualan. Pemilik usaha mana yang senang melihat calon pembeli datang, lalu pulang sebelum memesan? Kopi tetap harus terjual. Biaya listrik harus dibayar. Begitu juga gaji karyawan.
Tetapi selera orang memang tidak sama. Malam itu mungkin bukan malam yang sesuai dengan selera mereka. Mereka bisa datang lagi pada malam lain.
Ada malam musik umum, lagu-lagu kenangan, jazz, blues, dan country. Ada juga program untuk band-band indie yang sedang kami siapkan. Kamis malam akan tetap menjadi malam seni budaya. Sebab, kalau semua tempat hanya mau menampilkan sesuatu yang sudah populer dan mudah diterima, para pelaku seni tradisi harus tampil di mana?
Kalau harus menunggu acara pemerintah, festival tahunan, peringatan hari besar, atau hajatan tertentu, mereka bisa menunggu berbulan-bulan. Bahkan bertahun-tahun. Padahal mereka harus terus berlatih. Anak-anak muda yang mempelajarinya juga membutuhkan penonton.
Kita terlalu sering berbicara tentang pelestarian budaya. Kalimat itu ada dalam pidato, proposal, spanduk, dan sambutan pejabat. Masalahnya, setelah acara selesai, panggung biasanya dibongkar. Para pelaku seni pulang dan kembali menunggu entah berapa lama sampai undangan berikutnya datang.
Karena itu, Panggung Asa akan tetap membuka Kamis malam untuk mereka. Bukan hanya seni khas Banten. Seni Jawa, Sunda, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua boleh hadir.
Banten sudah menjadi rumah bagi orang-orang dari berbagai daerah. Mereka datang membawa bahasa, makanan, kebiasaan, dan keseniannya. Panggung kecil ini semestinya bisa menjadi salah satu tempat untuk mempertemukan semua itu.
Mungkin tidak semua pengunjung langsung menyukai. Ada yang merasa asing. Ada pula yang awalnya hanya ingin minum kopi, tetapi tanpa sengaja menonton pertunjukan yang belum pernah dilihatnya. Siapa tahu ia pulang membawa rasa penasaran. Para pelaku dan pegiat seni budaya, mari datang ke Panggung Asa. Waktunya sudah disiapkan. Tempatnya ada. Jadwalnya tinggal dibicarakan.
Satu Asa juga terbuka untuk diskusi. Tidak harus selalu diskusi besar dengan panggung tinggi, spanduk lebar, dan deretan pembicara. Diskusi kecil di sekitar meja kopi pun bisa melahirkan gagasan yang baik. Komunitas bisa berbicara tentang kota, kebudayaan, media, pendidikan, usaha, musik, atau persoalan lain yang dianggap penting. Kami ingin orang datang bukan hanya membawa uang untuk membeli kopi. Mereka juga boleh membawa pikiran, pertanyaan, atau kegelisahan.
Tempat ini juga bisa digunakan untuk mengasah kemampuan. Pekan depan, misalnya, akan digelar Kompetisi Domino. Bukan semata-mata untuk mencari siapa yang paling jago membanting kartu di atas meja. Di sana ada konsentrasi, strategi, kemampuan membaca permainan, dan tentu saja keberanian menerima kekalahan.
Kadang-kadang, kemampuan memang perlu diuji di depan orang lain. Tidak cukup hanya merasa hebat di lingkungan sendiri. Satu Asa ingin menjadi tempat untuk mencoba itu.
Teman-teman juga sedang menyiapkan program bagi para musisi Banten, terutama band-band independen. Kami ingin mereka berani tampil membawa lagu ciptaan sendiri. Membawakan lagu terkenal memang lebih aman. Penonton sudah mengenal lirik dan melodinya.
Tepuk tangan juga lebih mudah didapat. Lagu sendiri punya risiko. Penonton belum hafal. Membawakan lagu musisi lain tetap penting untuk melatih kemampuan. Tetapi sebuah band akan tumbuh lebih jauh ketika mulai berani memperkenalkan identitas dan karyanya sendiri.
Mereka perlu melihat reaksi penonton secara langsung. Apakah lirik dan aransemennya sampai, atau orang justru kembali sibuk dengan telepon genggam sebelum lagunya selesai. Penampilan mereka nantinya tidak hanya berhenti di Panggung Asa. Kami ingin merekamnya, menayangkannya di Banten TV, lalu menyebarkannya melalui media sosial. Mungkin suatu hari ada grup musik dari Banten yang memulai perjalanannya dari sini. Mungkin juga tidak. Kami belum tahu.
Usia Satu Asa baru 31 hari. Masih terlalu muda untuk mengaku sudah melakukan banyak hal. Tetapi setidaknya panggung kecil itu mulai menyala. Kamis malam lalu dipakai untuk silat dan debus.
Pekan depan ada Kompetisi Domino. Kamis berikutnya, giliran campursari. Malam-malam lainnya akan ada musik, diskusi, dan karya-karya yang belum banyak dikenal orang.
Memang ada pengunjung yang memilih balik kanan. Tidak apa-apa. Barangkali mereka akan kembali pada malam lain. Kami hanya ingin orang-orang yang punya karya, gagasan, dan kemampuan tidak terlalu lama menunggu tempat untuk mencoba.
Silakan datang. Tempatnya sudah ada. Jadwalnya kita bicarakan. Kopinya, tentu saja, jangan lupa dipesan. (*)










