GAME online dianggap sebagian kalangan hanya mainan biasa. Siapa sangka, akibat kecanduan game online, dua nyawa melayang. Ini terjadi pada keponakan Udin (40), nama samaran, sebut saja Beti (25) dan buah hatinya yang meninggal dunia akibat ditelantarkan suaminya Beni (30), nama samaran, yang kecanduan main game online.
Harapan Beti menerima lamaran Beni awalnya hanya untuk menutupi aib bahwa Beti merupakan korban cerai dari lelaki yang jelas-jelas sudah menjadi suami orang, alias Beti dipoligami dan diketahui hampir semua tetangganya. Untuk menutupi rasa malu dan mengembalikan citra keluarga, Beti akhirnya menerima pinangan Beni yang belum lama dikenalnya dan masih berstatus bujangan. Meskipun niat Beti sempat ditentang pihak keluarga yang mengetahui sifat bejat Beni.
“Wajarlah dulu almarhumah (Beti-red) suka. Selain bujang, tampan, si Beni juga tadinya orang kaya,” terangnya. Jadi, almarhumah Mbak Beti matrealistis gitu Om?
“Bukan begitu, mungkin yang dipikirkan almarhumah waktu itu, kalau nikah sama si Beni punya masa depan lah,” terangnya. Lah, sama juga kali Om, ‘matre’.
Meski berstatus bujangan, Beni berani berjuang mati-matian untuk mendapatkan cinta si janda kembang. Siapa yang tidak akan tergoda melihat Beti semasa hidupnya. Selain berpenampilan modis, Beti juga terbilang paling cantik di daerahnya di Pandeglang. Dengan kulit putih, rambut panjang terurai, serta bodinya yang aduhai, dan tinggi semampai bisa membuat sang kumbang kehausan.
Singkat cerita, pernikahan mereka pun dilangsungkan dengan pesta cukup meriah. Saking bahagianya, Beni yang tidak tahan melihat kecantikan dan kemolekan tubuh Beti yang dibalut riasan baju pengantin, tanpa malu-malu lagi langsung mengajak beradegan ranjang dengan Beti saat acara resepsi masih berlangsung. Beni memanfaatkan waktu membelah duren di sela-sela sesi penggantian kostum pengantin di kamar yang sudah disediakan yang dipenuhi hiasan bunga-bunga. Mmm, yummy.
“Iya, si Beni emang gila. Masa siang-siang masih acara resepsi langsung ngajak gituan sama ponakan saya. Dasar sableng,” ujar Udin. Enggak apa-apa sih Om, kan sudah sah.
“Sah sih sah, tapi enggak gitu juga kali, enggak sabaran amat, malu-maluin aja,” ketusnya.
Beti yang menyadari sudah menjadi istri sah Beni, akhirnya menerima ajakan Beni karena takut dosa. Mereka menghabiskan waktu sampai ber jam-jam di kamar. “Kita pihak keluarga sibuk ngurusin tamu undangan, sementara pengantin malah begituan di dalam kamar. Tukang rias juga sampai ngekek (ketawa-red), kan malu-maluin,” ungkapnya.
Tamu undangan sampai penasaran dan banyak yang menanyakan dengan ketiadaan kedua mempelai. Sampai akhirnya, tamu undangan membubarkan diri ketika acara resepsi menjelang sore karena diguyur hujan besar.
Hari-hari setelah pernikahan, keduanya menikmati kehidupan barunya dan tinggal di sebuah kontrakan. Meski untuk menafkahi istrinya, Beni hanya mengandalkan pemberian orangtua karena masih berstatus pengangguran. Namun, ketika Beti tengah mengandung. Beni mulai terpengaruh pergaulan teman-temannya yang doyan begadang, minum-minuman keras, hingga bermain game online di warnet tak jauh dari rumahnya.
Mungkin, untuk mengonsumsi minuman keras Beni masih tahan, hanya pas punya uang saja. Berbeda dengan game online yang sering dimainkannya, yakni jenis PB (point blank) atau permainan komputer ber-genre first person shooting game atau semacam permainan perang-perangan. Sejak itu, Beni seperti tidak mengenal waktu. Bak lagu Armada ‘pergi pagi pulang pagi’ duduk di warnet depan komputer bermain PB, bukannya mengais rezeki untuk istri.
“Kalau sudah di warnet, gila Mas. Beti saja capek lihat kelakuan si Beni yang susah diajak pulang. Malah sering tidur di warnet. Kan warnet milik temannya, buka 24 jam,” terangnya.
Keasyikan bermain game online, sampai uang yang rutin diberikan orangtua, selalu Beni habiskan untuk membayar jam sewa komputer di warnet. Tentu saja, kondisi itu membuat Beti dan pihak keluarga pusing tujuh keliling dengan ulah Beni. Kalau dilarang Beti, Beni malah makin berontak dan balik marah, bahkan berani mengusir.
Malang bagi Beti, bukankah pada masa kehamilan seharusnya mendapat kasih sayang yang lebih dari suami. Ini malah ditelantarkan begitu saja. Wajar kalau Beti sering sakit-sakitan. Tapi, Beni seolah tidak perduli.
“Saking tidak terurus, Beti hamilnya saja kurus. Kasihan dia. Dari awal juga kita enggak setuju Beti kawin sama si brengsek Beni, ginilah jadinya,” katanya.
Kecanduan Beni terhadap game online pun makin menjadi. Tatkala Beti akan melahirkan dan sedang berjuang dalam proses persalinan di bidan, Beni tetap asik dengan hobinya. Alamak, jahat kali kau Beni. Beruntung Beti dan bayi laki-lakinya yang mungil selamat meski tanpa kehadiran Beni.
Seiring waktu, orangtua Beni dikabarkan bangkrut, sehingga tidak lagi memberikan nafkah untuk Beni. Situasi itu, membuat Beni di kontrakan hanya menjadi parasit dan mengandalkan Beti yang mulai membuka usaha warungan kecil-kecilan. Namun, kondisi itu tak membuat Beni jera menyalurkan hobi main game online-nya, serta bertahan dengan sifatnya yang super malas.
Di rumah, kerjanya hanya makan, tidur, merokok, terus main game online. Enak benerrr. Bukan hanya itu, parahnya lagi, Beni juga sering saling kontak dengan mantan-mantannya.
Melihat kelakuan bejat Beni, Beti hanya bisa mengelus dada. Terlebih, kehadiran darah daging Beni membuat Beti semakin sulit melepaskan Beni. Suatu ketika, Beti sakit types parah. Bukannya dirawat, Beni hanya mengajak berobat jalan dengan alasan tidak ada uang. Karena, setiap hari kerjanya hanya menongkrong di warnet.
Tanpa memberi kabar kedua orangtua masing-masing dengan alasan malu, Beni yang sok tahu hanya memberikan perawatan seadanya terhadap Beti. Padahal, dokter sudah menganjurkan agar Beti dirawat karena penyakitnya sudah akut.
“Memilukan Mas, karena lama dibiarkan, Beti yang sudah tidak kuat menahan penyakitnya, seminggu kemudian menghembuskan napas terakhir,” kata Udin menitikkan air mata mengingat peristiwa yang berlangsung setahun lalu itu.
Beberapa bulan kemudian, anaknya pun jatuh sakit. Namun, lagi-lagi Beni melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan kepada Beti, ia membiarkan anaknya dengan alasan faktor ekonomi. Anaknya pun akhirnya menyusul ibunya ke alam sana. Astaga, malang nasibmu Mbak Beti.
Kini, Beni tinggal sendirian penuh penyesalan di kontrakan dan tidak diketahui lagi bagaimana nasibnya. “Kita emosi, marah sama si Beni. Sekarang bodo amat dia mau mati juga,” pungkasnya.
Sabar Om, enggak boleh begitu, hidup di dunia kan penuh dengan ujian. Doakan saja yang terbaik, biar Om juga dapat pahala. Amin. (Nizar S/Radar Banten)









