MATAHARI begitu menyengat terik siang itu. Angin bertiup kencang menggoyangkan batang-batang pohon di depan halaman rumah berinterior sederhana. Hingar-bingar layaknya di pasar terdengar dari balik kamar pasangan suami istri, yakni Deded (45) dan Lilis (43), keduanya nama samaran, ikut memanaskan suasana.
Namun, satu jam kemudian, panas akibat pertengkaran sepasang suami istri itu, dalam waktu singkat menurun drastis. Itu lantaran tensi Deded mulai menurun alias mencair setelah diterpa badai hebat, yakni raungan istri yang berwatak keras kepala. Begitulah suasana rumah tangga Deded setiap harinya. Bahkan, tidak mengenal waktu, bisa pagi atau pun malam. Kondisi itu membuat Deded yang sudah dikaruniai tiga anak itu, tak pernah merasa betah berlama-lama di rumah. Deded pun akhirnya mengibarkan bendera putih tanda menyerah kepada sang istri.
“Istri saya susah diatur, jadinya kita jarang akur. Apalagi sama tetangga, pasti ribut saja bawaannya,” keluh pria paruh baya yang berprofesi sebagai sopir tersebut.
Sudah lebih dari lima kali Deded pindah rumah atas permintaan istrinya. Alasan Lilis terbilang klasik, sudah tidak betah. Padahal, di balik itu, Lilis lah biang keroknya. Lilis rupanya tak pernah akur dengan semua tetangga. Itu lantaran mulut Lilis yang tidak bisa dijaga. Selain suka berbicara kasar, Lilis juga dikenal sebagai bigos alias biang gosip. Sikap Lilis pun terkadang menurunkan mental anaknya yang tak jarang menjadi korban cemoohan anak-anak sebaya mereka akibat ulah ibunya.
Meski begitu, soal urusan ranjang, Deded tak menampik jika libidonya mampu dipuaskan oleh Lilis yang mahir bergoyang. Setiap Deded mengajak istrinya bercinta dalam situasi apa pun, hasratnya selalu terpenuhi. Kalau sudah melihat Lilis yang putih mulus dalam keadaan tanpa busana, Deded seketika bisa berubah seperti harimau lapar yang tidak membuang waktu untuk menerkam mangsanya.
“Jujur saja, kalau sudah di ranjang, kita bisa berlama-lama coba berbagai macam gaya,” ungkapnya. Auummmm. Lantaran itu, sekasar apa pun sikap istri, selalu Deded lupakan karena kerap kangen akan itunya. Apaan tuh?
Bahkan, setiap berhubungan badan, dari suasana tegang bisa diubah Lilis dalam sekejap menjadi romantis di kamar. Tetapi, setelah burung lepas dari sangkarnya, lalu keluar kamar, situasi bisa berubah seperti semula. Kejadian itu berulang sejak pertama kali Deded dan Lilis berumah tangga 20 tahun silam.
Awalnya, Deded tak pernah tahu dengan watak Lilis yang membuat semua tetangga geram. Deded mulai sadar setelah kepindahan rumah untuk kesekian kalinya. Di rumah pertama pemberian orangtua, Deded dan Lilis mampu bertahan selama sepuluh tahun. Selepas itu, hampir setiap tahun Deded berpindah-pindah dari kampung satu ke kampung lainnya di kecamatan yang sama.
“Saya mikirnya, istri kasarnya cuman sama saya doang. Ternyata, ke semua saudara saya dan tetangga juga begitu (kasar-red). Karena bela istri, akhirnya saya kebawa-bawa. Padahal jelas, istri yang salah,” terangnya.
Hampir dengan semua saudara, baik dari pihak istri maupun Deded sendiri, bahkan hingga tetangga, Deded pernah berselisih karena membela istrinya. Padahal, Deded tidak pernah tahu duduk persoalan sebenarnya. Misalnya, pernyataan Lilis soal tetangganya yang kerap memaki-maki Lilis dan anaknya. Mendengar hal itu, Deded langsung naik pitam dan balik memaki-maki tetangga hingga terjadi keributan dahsyat. Padahal, anaknya sendiri tidak merasa mendapat makian dari tetangga. Kondisi itu terus berulang setiap kali Deded pindah rumah. Meski sadar akan sikap istri yang kasar, Deded tetap tak terima istrinya diperlakukan kasar oleh orang lain. So sweet.
“Pas ditanyakan ke anak, dia malah bilang bukan dimarahi tapi justru dikasih tahu saja sama tetangga kalau kelakuannya salah. Tapi, cerita istri saya lain, katanya anak dimaki-maki dan dimarahi enggak karuan. Malu saya,” ungkapnya.
Sikap buruk Lilis itu pun sudah seperti jamur, menyebar kemana-mana. Lilis ternyata pintar membalikkan fakta. Deded pun diadu domba sampai akhirnya jauh dari orangtua dan semua saudaranya. Deded sempat diperingatkan oleh orangtua dan saudaranya akan kelakuan buruk istrinya. Tetapi, Deded yang terlalu sayang sama Lilis tak pernah percaya begitu saja. Sampai akhirnya, Deded merasa curiga karena ada kejanggalan pada sikap Lilis yang selalu meminta pindah rumah hampir setiap tahun.
Deded mencoba menelusuri alasan sebenarnya. Ternyata, Lilis lah penyebab utama semua permasalahan. Lilis tak pernah rukun dengan tetangga atau bahkan saudaranya sendiri dan kerabat Deded. Kondisi itu membuat Lilis merasa tidak nyaman untuk tinggal berlama-lama.
“Saya malu disindir terus oleh teman-teman dan saudara. Katanya, saya banyak rumahnya. Maksudnya, nyindir kalau saya suka pindah-pindah,” katanya. Aminkan saja sih Pak.
“Tapi, makin ke sini, rumah saya makin jelek saja. Karena saya jual terus, harganya jadi semakin murah, sementara beli rumah yang sepadan susah. Capek juga sering angkut-angkut barang buat pindahan,” keluhnya.
Ibarat semut kalau diinjak pasti akan marah. Nah, kesabaran Deded juga ada batasnya. Merasa bertahan hidup bersama Lilis seperti berada di hutan belantara, jauh dari tetangga dan sanak saudara, Deded mulai memikirkan untuk mengeluarkan keputusan bulat. Kalau sudah ribut di rumah, mulut Lilis sudah seperti harimau. Deded diam pun, Lilis tak akan berhenti nyerocos karena merasa paling bener.
“Kalau sudah marah-marah enggak ketulungan. Piring-piring di rumah bisa pada terbang. Makanya, saya yang sering ngalah daripada makin berantakan,” akunya.
Sampai suatu ketika, beda pendapat antara Deded dan Lilis membuat mereka bertengkar hebat. Kesabaran Deded sudah berada di ujung tanduk, akhirnya mengeluarkan kata talak dan hubungan mereka pun retak hingga berujung pada perceraian. “Kalau sikap istri terus seperti itu, lama-lama jengkel juga,” ucapnya.
“Pas diajak cerai, istri malah nantang, ya sudah cerai saja. Ya sudah, makin mantap deh sama keputusan saya. Kalau terus dipertahankan bisa kacau balau,” tegasnya. Beruntung ketiga anak hasil pernikahan mereka ikut bersama Deded karena mengetahui sifat buruk ibunya.
“Sekarang kita masing-masing saja. Rumah saya tinggalkan buat istri, saya sekarang tinggal di kontrakan sama anak-anak. Mudah-mudahan, ini jalan yang terbaik,” harapnya. Amin. (Nizar S/Radar Banten)









