MASALAH ekonomi selalu menjadi pemicu keretakan dalam rumah tangga. Namun, kesulitan ekonomi yang dihadapi Cici (36), nama samaran, bukan karena sang suami, sebut saja Coki (37), pengangguran atau malas-malasan. Melainkan karena terlalu royal terhadap orang lain ketimbang anak istri. Lantaran hal itu, Coki yang mempunyai sifat solidaritas tinggi kerap menelantarkan Cici dan anak-anaknya.
Semua penghasilan Coki kerap dihabiskan untuk membantu sahabatnya yang kesulitan ekonomi. Kadang, untuk berfoya-foya tak karuan. Kondisi itu pula, memaksa Coki sering berperilaku menyimpang di rumah.
Saat tidak ada uang di kantongnya karena gaji bulanannya sudah habis, Coki tak sungkan menguras isi tabungan Cici. Bahkan, Coki berani menguras barang-barang di rumah. Celengan anak pun tak luput menjadi sasaran. Astaga. Lantaran kesal dengan perilaku buruk suami yang semakin menjadi-jadi, Cici melaporkan sang suami ke Pengadilan Agama.
“Kesal Mas, uang tabungan suka ludes enggak jelas. Barang-barang juga, ada saja yang hilang digadaikan. Mending kalau uangnya buat makan, ini malah buat jaga wibawa di depan temannya. Terus kita dapat apa? Pujian doang,” keluh Cici.
Awal pernikahan, hidup Cici dan Coki bahagia. Meski gaji Coki sebagai buruh pabrik tak terlalu besar namun cukup buat makan sehari-hari. Beruntung, Coki memiliki Cici yang pandai menyimpan uang sisa belanjaan untuk tabungan masa depan. Terbukti, dari tabungan Cici lah, anak-anak bisa sekolah sampai sekarang. Bahkan, ada yang sudah mampu menyelesaikan pendidikan jenjang SMA-nya dan kini sudah bekerja sebagai pelayan restoran.
Sayangnya, kepedulian Cici tak diikuti dengan perangai Coki. Sikap Coki berubah total usai reuni dengan teman-teman SMA-nya. Awalnya hanya mengajak bernostalgia bermain band mengenang masa-masa mereka sebagai anak band era 90-an.
Seiring waktu, justru Coki hanya menampung keluhan ekonomi mereka. Merasa lebih mampu dalam hal ekonomi dibandingkan rekan-rekannya yang berstatus pengangguran, Coki jumawa dan merasa sok pahlawan. Setiap bertemu untuk sekadar latihan band di studio musik atau menongkrong di pinggir jalan ditemani makanan ringan, Coki lah yang rutin menguras kantong.
“Namanya gaul sama pengangguran, otomatis yang kerja yang bayarin. Kalau begitu, lama-lama tekor juga,” ujarnya.
Sementara, Coki yang haus pujian malah terkesima dan begitu menikmati bergaul dengan temannya karena merasa menjadi raja, selalu diagung-agungkan oleh teman-temannya itu. Yang ini beda rajanya, bukannya dilayani, malah banyak pengeluaran. Coki pun berulah dan mulai memanjakan kebiasaan barunya menghambur-hamburkan uang gajian demi kesenangan teman-temannya.
Situasi itu membuat Cici dan keempat anaknya terlantar. Sejak itu, Coki tak pernah menyerahkan uang gaji, tak pernah lagi membayar iuran sekolah anak bahkan tidak lagi memberikan uang belanja untuk makan sehari-hari. Alasannya, uang dipakai bisnis dengan teman-temannya.
Awalnya Cici percaya dan bersemangat melihat Coki yang ingin merintis usaha. Mulai dari bisnis jual beli motor, elektronik, sampai batu akik. Sebagai istri yang baik, tentu Cici mendukung. Bahkan dukungan Cici bukan sekadar moril melainkan juga materil.
Sekali, dua kali, Cici masih mau menguras tabungan sampai jutaan. Setahun berjalan, sadar tak pernah ada untungnya, Cici yang curiga pun geram dan sempat menanyakan soal kemajuan usaha yang dirintis Coki. Apalagi, sejak kenal dengan teman-teman SMA-nya itu, Coki jadi jarang pulang. Tentu saja, kondisi itu membuat Coki jadi jarang tidur seranjang dengan Cici atau bahkan sekadar bermesraan. Yang ada, di antara mereka sering terjadi percekcokan.
“Ditanya begitu (soal usaha-red) malah balik sewot. Jawabnya ‘Sudah jangan banyak tanya, duit kamu kan duit dari saya juga’, kesal lah,” ujar Cici menirukan ucapan Coki.
Sejak itu, dukungan Cici terhadap suami mulai luntur dan tak lagi menggelontorkan modal untuk suami. Coki tak kehilangan akal, diam-diam Coki menguras tabungan Cici yang tersimpan di lemari. Parahnya, celengan anak-anak pun tak luput jadi sasaran. Bangkai celengan dengan kondisi bekas bobokan, selalu dibiarkan berserakan di lantai.
“Yang nyuri sudah pasti suami. Mana ada pencuri ngebobok celengan yang uangnya recehan?” ucap Cici. Ada saja Mbak, recehan juga duit, jangankan orang, tuyul saja doyan.
Kehidupan keluarga Cici menjadi tak nyaman. Menyimpan barang di mana pun, selama masih di rumah pasti tidak aman. Bukan karena banyak tuyul berkeliaran atau adanya babi ngepet, melainkan kelakuan suami yang sudah seperti pencuri andal. Puncaknya, Cici didatangi penagih utang. Ternyata, Coki juga ketagihan meminjam uang ke rentenir. Bahkan, utangnya sudah mencapai puluhan juta, belum termasuk bunganya.
“Bukan masalah besar kecilnya, tapi uang yang ia pinjam atau barang yang digadaikan itu untuk bantu teman-temannya. Jelas saya kecewa. Ngakunya kan buat bisnis,” jelas Cici.
Sejak itu, Cici tak lagi meladeni Coki ketika meminjam uang sehingga keduanya menjadi sering bertengkar hebat lantaran sikap Coki yang lebih membela temannya ketimbang Cici.
“Dari situ saya marah besar dan ngajak pisah,” terangnya. “Selingkuh sih enggak, tapi saya enggak mau anak-anak jadi korban suami yang lebih mementingkan diri sendiri,” tambahnya.
Terlebih, Cici membaca isi pesan dalam ponsel Coki dari temannya yang isinya terkesan memaksa Coki harus rutin mengeluarkan isi kantongnya. Dari membuat jadwal rutin latihan band, minum-minuman, sampai begadang. Cici pernah memperingatkan Coki bahwa teman-temannya membawa pengaruh buruk, tapi hanya dianggap angin lalu oleh Coki.
“Main band saja, hampir tiap hari dia yang membayar, jadi artis kagak! Saya sempat ancam dia untuk meninggalkan teman-temannya jika ingin mempertahankan rumah tangga, eh dia malah balik menantang. Ya sudah, saya ceraikan saja,” tegasnya. Sekarang, Cici bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Ekonominya dibantu anak pertamanya yang sudah bekerja sebagai pelayan di restoran. Enggak kepikiran mencari suami baru Mbak?
“Saya sih bagaimana anak Mas. Yang naksir sih sudah ada,” ungkapnya. Cie cie cie, saya doakan semoga diizinkan oleh anak Mbak. Mudah-mudahan, suami baru nanti lebih baik dari Mas Coki. Amin. (Nizar S/Radar Banten)







