SERANG – Kejahatan seksual dengan korban anak-anak di bawah umur, kini makin memprihatinkan. Menurut Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Arist Merdeka Sirait, kini Provinsi Banten merupakan salah satu dari 9 provinsi yang rawan kejahatan seksual terhadap anak.
“Alasannya di Banten ini banyak yang melakukan, dan banyak kejadian-kejadian pelanggaran terhadap anak. Dimana 50 persen itu adalah kejahatan seksual. Maka dari itu, dalam memutus mata rantai tersebut, inilah langkah-langkah bisa dilakukan oleh kami bersama dengan KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) dan mengajak lembaga-lembaga pemerintah, pemberdayaan masyarakat termasuk lembaga perlindungan anak (LPA) untuk mengusulkan dua hal untuk membersihkan kejahatan seksual di Banten,” katanya saat diwawancarai, seusai acara dialog publik bersama KNPI, di salah satu rumah makan di Jalan Bhayangkara, Kota Serang, Selasa (9/5).
Lebih lanjut, dalam acara yang dihadiri juga oleh Ketua LPA Banten Uut Lutfi dan Psikolog Elizabeth T Santoso, Arist mengatakan bahwa saat ini kondisi masyarakat masih mengalami banyak kendala. “Sekarang, masyarakat masih sangat lama membiarkan terjadinya kejahatan-kejahatan seksual di lingkungannya. Mereka belum merasa hal itu sebagai problem bersama. Maka saya kira sudah saatnya dalam rangka memutus mata rantai kekerasan yang sudah darurat kejahatan seksual di Banten itu perlu ada gerakan Perlindungan Anak Sekampung,” ujarnya.
Menurutnya, dengan adanya Perlindungan Anak Sekampung tersebut, masing-masing kabupaten kota dapat mencoba mensosialisasikan dan menyampaikan hal tersebut.
“Misalnya Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, Kota Serang, Tangerang itu bersumber dari partisipasi masyarakat, tujuannya supaya masyarakat itu ikut berpartisipasi di masing-masing desa,” katanya.
Ia menambahkan, Gerakan Perlindungan Anak masing-masing di desa tersebut merupakan sebuah cara untuk melakukan perlindungan di masing-masing anak.
“Faktor pendukung adanya kekerasan seksual itu karena pornografi, minuman keras, kecanggihan teknologi dan gaya hidup,” tambahnya. (Wirda Garizahaq/risawirda@gmail.com)










