Namun, tuntutan tersebut berubah dengan alasan seluruh masyarakat di Kelurahan Cilowong terdampak. Sehingga, tuntutan kompensasi atas kerja sama tersebut dibagikan kepada seluruh RT. “Memang saya juga merasakan sendiri. Mungkin karena banyaknya kendaraan (truk sampah-red) yang masuk ke situ, sampah juga tercecer. Dan memang agak bau,” katanya.
Syafrudin mengisyarakat tuntutan warga soal kompensasi itu bakal dikabulkan. “Itu nanti, bukan tahun ini (kompensasi-red). Karena kan kalau tahun ini hanya empat bulan. Itu nanti tahun depan, bukan tahun ini,” ungkapnya.
Terkait kerja sama pengelolaan sampah, Syafrudin secara pribadi mengaku menyerahkannya kepada masyarakat. “Mau ditutup, mau disetop, mau diputus (kerja sama-red), itu silahkan masyarakat. Tapi, kalau pemkot ingin lanjut, karena ada banyak manfaat, terutama pendapatan daerah,” jelasnya.
Menurut Syafrudin, berdasarkan kerja sama dengan Pemkot Tangsel, setiap hari TPAS Cilowong maksimal menerima 400 ton. Tetapi, berat sampah itu bersifat fluktuatif. “Kondisional saja. Ada yang 200 ton sehari, malah ada yang sehari 150 ton. Apalagi kan sekarang lagi ada pembangunan jalan, jadi memang agak macet,” katanya.
Sebelumnya, Warga Lingkungan Jakung, Kelurahan Cilowong menghentikan sementara armada pengangkut sampah dari Kota Tangsel menuju TPAS Cilowong. Koordinator aksi, Edi Santoso menegaskan penghentian truk pengangkutan sampah itu akan terus berlangsung hingga tuntutan warga dipenuhi oleh Pemkot Serang. “Kita ingin jalan ini steril dulu dari mobil sampah, kalau masih ada akan kita pulangkan, sebelum tuntutan dipenuhi,” terangnya. (fdr/nda)









