“Harus dilakukan pencegahan sejak dini dari mulai pernikahan dini, sebelum 20 tahun itu kalau bisa dihindari. Karena kondisi ibu yang belum siap secara psikologi, akan melahirkan anak-anak yang berpotensi menjadi stunting,” katanya.
Sementara itu, Kepala Wilayah Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa Provinsi Banten, Danan Panggih Wisastra mengungkapkan, perilaku BABS mudah ditemukan di Kecamatan Kasemen dan Kecamatan Cipocokjaya.
“Di Kecamatan Kasemen kita fokus di tiga kelurahan mendampingi 325 jiwa atau 66 Kartu Keluarga (KK) dari mereka masih BABS sampai Stop BABS sekarang sudah memiliki jamban sehat keluarga sendiri,” katanya.
“Untuk stop kebiasaan tersebut Kami bangun 66 unit jamban. Sedangkan di Kecamatan Cipocok ada 470 jiwa atau 106 KK yang Kami dampingi sampai mereka stop BABS,” beber Danan.
Danan mengatakan, model pendampingan yang dilakukan melalui empat tahapan. Yaitu, sosialisasi, pemicuan, pendampingan terakhir, monitoring efektivitas pembangunan jamban.











