Kelakat bambu ini, bisa dimanfaatkan untuk dimsum dan makanan kukus lainnya. Jika makanan kukus disimpan di kelakat, akan menambah citra rasa.
“Sekarang banyak daerah yang memproduksi kelakat bambu seperti Yogyakarta, tapi kelakat punya kita dipercaya lebih kuat,” ujarnya.
Meski begitu, Idrus mengaku masih terkendala dengan peralatan. Padahal, potensi pemasaran kelakat ini cukup tinggi.
Pengerjaan kelakat bambu ini masih dilakukan secara manual seutuhnya. Sehingga, tingkat produktivitasnya masih rendah.
“Kita pernah ada order 4.000 kelakat, tapi kita enggak sanggup karena keterbatasan peralatan ini,” ujarnya.
Salah satu peralatan yang dibutuhkan yakni mesin pengering. Selama ini, ia hanya mengandalkan sinar matahari untuk pengeringannya.











