“Kalau musim hujan produksi kita terkendala, karena kita masih mengandalkan sinar matahari untuk pengeringannya,” katanya.
Kepala Desa Kadugenep M Aopidi mengatakan, pihaknya mendorong pengembangan produksi kelakat bambu di desanya.
Ia mengatakan, produksi kelakat bambu sangat berpotensi. “Kita terus membantu untuk memfasilitasi ketersediaan bahan bakunya, hingga pemasarannya,” katanya.
Namun, untuk penyediaan peralatannya, tidak memungkinkan jika menggunakan dana desa. Karena, harganya yang relatif mahal. “Satu mesin saja ada yang sampai pengeringan itu Rp300 juta,” ujarnya.
Karena itu, ia berharap pemerintah dapat membantu untuk penyediaan peralatannya. “Karena kalau bergantung pada cuaca, produktivitasnya sulit untuk meningkat,” pungkasnya.
Reporter: Abdul Rozak
Editor: Widodo











