Kepala Stasiun Karantina Ikan Merak, Iromo mengatakan, untuk ekspor ikan seperti lobster dan udang sega saat ini pengiriman nya masih dilakukan di luar Banten.
Hal itu lantaran tidak tersedia nya container coolstorage untuk jenis produk ini di pelabuhan yang ada di Banten.
Hal itu disayangkan lantaran ekspor ikan dari Banten cukup tinggi setiap tahunnya.
“Ekspor ikan dari Banten itu cukup tinggi. Itu satu tahun bisa 44 ribu ton udang yang diekspor ke Amerika Serikat dari Banten, selama ini belum bisa dari port Banten sendiri via Cigading (Krakatau International Port) maupun Ciwandan (Pelindo II) jadi kita lmvia Tanjung Priok dan Soekarno Hatta,” kata Iromo.
Kepala KSOP Kelas I Banten, Brigjen Pol Capt Hermanta menambahkan, untuk mendukung program digitalisasi dan pengoptimalan layanan ekspor impor di Banten, pihaknya juga akan mendorong pelabuhan khusus di Banten salah satunya TUKS milik Wilmar yang sedang dalam proses verifikasi dan assessment agar bisa segera diajukan rekomendasi nya untuk dijadikan terminal umum.
“Kita akan mencoba memverifikasi dan memberikan assessment pengajuan Wilmar itu untuk menjadi terminal umum. kita akan lakukan verifikasi dan ajukan rekomendasi kepada pak menteri rekomendasi untuk pemberian permohonan pelabuhan terminal sendiri untuk terminal umum,” ujar Hermanta.
Untuk diketahui, saat ini kapasitas muat Pelabuhan Krakatau International Port sekitar 19,2 juta ton untuk kepentingan curah kering. Sedangkan untuk Pelabuhan Pelindo II Ciwandan, kapasitas nya hanya sekitar 6,2 juta ton.
Sehingga dengan bertambahnya pelabuhan umum di Banten dengan peningkatan fasilitas dan utilitas nya, diharapkan terjadi penambahan kapasitas sebesar 10 hingga 20 persen kapasitas muat, agar bisa mendorong peningkatan ekspor hasil pertanian di wilayah Banten.
Reporter: Bayu Mulyana
Editor: Aditya











