RADARBANTEN.CO.ID – Pinjaman online begitu menggiurkan masyarakat yang sedang membutuhkan uang.
Perempuan paling banyak tergiur dengan pinjaman online tersebut dikarenakan rendahnya literasi keuangan digital.
Ketika perempuan sudah berutang ke pinjaman online dalam jumlah yang banyak dan berlipat, banyak dampak buruk yang dialaminya ketika tidak mampu melunasinya.
Dikutip dari kemenpppa.go.id, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat persentase pada perempuan sebesar 54,95 persen mendapatkan pinjaman online. Sementara laki-laki sebesar 45,05 persen.
Oleh karena itu dari persentase tersebut, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menjelaskan bahwa perempuan lebih rentan menjadi sasaran pinjaman online, termasuk pinjaman online ilegal, karena perempuan rendah literasi keuangan dibandingkan laki-laki.
Selain faktor rendahnya literasi keuangan, perempuan pun kurang mendapatkan sosialisasi pengetahuan mengenai cybersecurity media digital.
cybersecurity berkaitan dengan keamanan dan perlindungan sistem jaringan, data diri, privasi, serta beberapa ancaman serangan digital yang banyak terjadi di lingkungan masyarakat.
Pinjaman online selain mudah karena tanpa banyak syarat, menawarkan pencairan yang mudah, prosesnya pun sangat cepat menjadi pilihan yang menggiurkan.
Alasan kebanyakan perempuan menjadi korban kasus pinjaman online ini dihadapkan pada kebutuhan mendesak sehari-hari, biaya sekolah anak dan tekanan ekonomi.
Itulah alasan perempuan sebagai ibu rumah tangga, mahasiswa sampai anak sekolah menjadi nasabah pinjaman online.
Penulis : Siti Fatimah Azzahro
Editor : Aas Arbi











