Disinggung mengenai RDP tertutup terkesan menutupi kepentingan, Eko menegaskan RDP tertutup antara wakil rakyat dengan manajemen RSUD Adjidarmo itu tidak ada kepentingan dewan melainkan kepentingan masyarakat.
“Saya gak ada kepentingan di RSUD. Kami tetap megutamakan membela kenpentingan masyarakat,” tukasnya.
Sementara itu Direktur RSUD Adjidarmo Budhi Mulyanto mengatakan, salah satu kendala adanya beberapa item obat yang habis atau tidak tersedia di RSUD karena memang banyak item obat yang belum tersedia di e katalog.
“Ya, masalah utama ketersediaan diawal-awal tahun memang karena kita pengadaan utama lewat e katalog. Dimana banyak item obat yang belum tersedia di e katalog atau belum tayang di e katalog. Sesuai arahan dari Presiden semua pengadaan barang dan jasa milik pemerintah diutamakan melalui e katalog,” jelas Budhi.
Diakui orang yang baru menjabat 2 bukan sebagai orang nomor satu di RSUD Adjidarmo ini, setiap tahun kerap terjadi kelangkaan obat di RSUD.
“Ini memang hampir setiap tahun terjadi kelangkaan obat di RSUD tapi bukan hanya di Adjidarmo saja tapi hampir disemua RSUD,” katanya.
Budi menambahkan, terkait mengenai obat-obat tertentu yang memang ketersedian obat di awal tahun kurang atau tidak tersedia sama sekali karena kekurang telitian pihaknya.
“Ya ini kita akui kesalahan kami dalam membuat buffer stock untuk 3 bulan terakhir. Seharusnya kita diakhir tahun bisa menyiapkan stok untuk pelayanan 3 bulan kedepan. Ini ada beberapa obat yg tidak bisa kita siapkan buffer stocknya. Sehingga, di bulan Maret ada beberapa item obat yang habis. Rata-rata item obat-obat pasie kronis, pasien jantung, hipetensi, diabet,” tukasnya.(*)
Reporer: Nurabidin
Editor: Ahmad Lutfi











