PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kabupaten Pandeglang tahun ini mencapai sekitar 3.000 jiwa. Ribuan anak itu memilih berhenti melanjutkan pendidikan usai lulus SD maupun SMP.
Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Pandeglang, Nono Suparno, mengatakan ada beberapa faktor yang memicu tingginya angka ATS, mulai dari perceraian orang tua hingga faktor budaya di masyarakat.
“Masih ada anggapan bahwa setelah lulus SD atau SMP, anak tidak wajib melanjutkan sekolah formal. Banyak orang tua lebih memilih mengirim anaknya ke pondok pesantren,” ungkap Nono Suparno, pada Selasa 27 Mei 2025.
Menurut Nono, pihaknya terus mendorong pondok pesantren agar membuka layanan pendidikan kesetaraan seperti Paket B dan C. Ia juga mengimbau orang tua memilih ponpes yang memiliki Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
“Ini tugas kita bersama, baik pemerintah, komite sekolah, maupun masyarakat. Ngaji itu penting, tapi anak-anak juga harus tetap tercatat sebagai peserta pendidikan melalui program kesetaraan,” tegasnya.
Dindikpora Pandeglang berharap angka anak tidak sekolah (ATS) di wilayahnya bisa ditekan secara signifikan melalui upaya berkelanjutan dan kerja sama lintas sektor.
Sementara, Wakil Ketua Dewan Pendidikan Pandeglang, Eka Supriatna, mengatakan tingginya angka Anak Tidak Sekolah (ATS) yang masih menjadi tantangan di wilayahnya. Ia menyebut, berbagai faktor seperti kemiskinan, akses pendidikan yang sulit, hingga bencana menjadi penyebab utama.
“Kalau tahun lalu jumlahnya mencapai 4.000 anak, tahun ini menurun jadi sekitar 3.000. Ini sinyal positif, tapi tetap perlu kerja keras dari semua pihak,” kata Eka.
Untuk menekan angka tersebut, Eka mendorong penguatan kolaborasi dengan pemerintah pusat melalui program Sekolah Rakyat (SR). Menurutnya, program itu bisa menjadi solusi mengatasi ketimpangan pendidikan di daerah terpencil Pandeglang.
“Saya menyambut baik program-program pemerintah, termasuk pembangunan Sekolah Rakyat. Kami sudah usulkan wilayah Cimanggu sebagai lokasi, dengan lahan sekitar 10-20 hektare,” jelasnya.
Eka optimistis, jika semua pihak konsisten berkomitmen, anak-anak yang sempat putus sekolah bisa kembali mengenyam pendidikan.
“Kalau upaya ini berjalan terus, anak-anak Pandeglang bisa kembali sekolah dan masa depan mereka lebih terjamin,” pungkasnya.
Editor: Abdul Rozak











