CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menolak dua lokasi yang diajukan Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon untuk pembangunan Sekolah Rakyat. Dua lokasi tersebut berada di Kecamatan Ciwandan dan bekas Rumah Singgah Dinsos di Kelurahan Cikerai.
Wali Kota Cilegon Robinsar mengungkapkan, penolakan itu disebabkan karena kedua lokasi belum sesuai dengan spesifikasi teknis yang ditetapkan pemerintah pusat. Hal itu disampaikan saat meninjau pembangunan trotoar di simpang empat Kota Cilegon, Rabu 4 Juni 2025.
“Memang waktu Pak Menteri dan Mensos datang ke sini, kita juga hadir. Arahan Pak Gubernur, kepala daerah diminta siapkan lahan dengan kriteria luas tertentu. Nah, kita ajukan lahan di Cikerai, bekas rumah singgah, karena sudah ada bangunannya. Tapi ternyata belum sesuai dengan ketentuan pusat,” ungkap Robinsar.
Menurut Robinsar, keterbatasan lahan menjadi kendala utama Pemkot dalam memenuhi kebutuhan lokasi pembangunan Sekolah Rakyat. Selain luas tanah, faktor tata ruang dan zonasi juga menjadi pertimbangan penting.
“Jangan sampai ruang terbuka hijau kita alihfungsikan. Makanya kami ajukan yang bekas rumah singgah, karena pikir kami sudah ada bangunan bisa digunakan. Tapi ternyata belum cocok juga,” katanya.
Untuk mengantisipasi kebutuhan serupa ke depan, Pemkot kini mulai menginventarisasi lahan milik daerah di seluruh kecamatan. Tim dari bagian aset sedang mendata lokasi yang memenuhi syarat, terutama dengan luas minimal 5.000 meter persegi hingga 1 hektare.
“Sudah saya arahkan ke Pak Sekda dan bagian aset, data semua lahan milik Pemkot yang memungkinkan dipakai untuk kebutuhan seperti Sekolah Rakyat. Bukan cuma untuk sekarang, ke depan juga kalau pusat atau provinsi butuh lahan, kita sudah siapin,” jelas Robinsar.
Ia menegaskan bahwa pihaknya sangat mendukung program Sekolah Rakyat yang merupakan gagasan Presiden Terpilih, Prabowo Subianto. Program ini ditujukan untuk mendidik anak-anak dari keluarga tidak mampu, lengkap dengan fasilitas tempat tinggal, makan, dan pendidikan dari jenjang SD hingga SMA.
“Kami sangat mendukung. Ini program bagus untuk memutus mata rantai kemiskinan. Anak-anak yang tidak mampu akan difasilitasi hingga lulus SMA. Sayang kalau hanya karena lahan program ini batal di Cilegon,” tandas Robinsar.
Editor: Mastur Huda











