SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Sebanyak 10 Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Serang minim pendaftar. Kondisi tersebut diakibatkan karena adanya berbagai faktor, salah satunya karena jumlah penduduk di daerah sekitar yang jumlahnya sedikit.
Kepala Sekolah SDN Kramat Aan Hernawati mengatakan, pada pelaksanaan SPMB tahun ini, pihaknya hanya mendapatkan lima orang siswa.
“Hanya 5 orang, faktornya memang karena wilayah hanya ada Kampung Kramat dan Kampung Kalong yang dekat ke sekolah,” ujarnya, Kamis 10 Juli 2025.
Ia mengatakan, di tahun sebelumnya, jumlah pendaftar ke SDN Kramat juga sedikit. Bahkan, untuk kelas lima dan enam, yakni masing-masing hanya ada lima siswa. “Kelas 2 ada 17 siswa, kelas 3 ada 14 siswa, lalu kelas 4 ada 10 siswa, kelas 5 dan kelas 6 masing-masing ada 5 siswa,” tegasnya.
Meskipun demikian, Aan memastikan proses belajar mengajar di sekolah berjalan normal dan dilakukan dengan profesional.
Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan SD pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Serang, Janjusi mengatakan, pelaksanaan SPMB tingkat SD di Kabupaten Serang telah berjalan lancar.
Ia mengatakan, untuk di wilayah-wilayah padat pendusuk, peminatnya cukup tinggi hingga tidak tertampung. Namun, untuk di wilayah-wilayah yang penduduknya sedikit, jumlah siswa yang mendaftar sedikit.
“Hanya ada beberapa sekolah saja karena memang penduduknya kan sedikit, jauh dari mana-mana. Kalau sekolah yang di banyak penduduk semuanya terisi bagus,” katanya.
Ia mengatakan, ada 10 SD yang jumlah peminatnya minim. Sekolah tersebut tersebar di beberapa kecamatan di Kabupaten Serang. “Siswanya sedikit di bawah 20 dan tidak memenuhi daya tampung. Sekitar ada 10 sekolah,” tegasnya.
Ia mengatakan, sekolah-sekolah yang minim pendaftar tersebut di antaranya ialah SDN Kramat, Desa Parigi, Kecamatan Cikande, SDN Perkebunan Saga di Kecamatan Gunungsari, dan satu SDN di Pabuaran.
“Jadi bukan karena sepi peminat, tapi karena jumlah penduduk usia sekolahnya yang sedikit. Karena kalau SPMB ini sangat bergantung pada input usia sekolahnya. Memang sekolah-sekolah itu setiap tahunnya juga sedikit,” tegasnya.
Menurutnya, sangat sulit untuk meningkatkan jumlah siswa apabila jumlah kampung yang ada di sekitar sekolah sedikit. Karena umumnya orangtua akan lebih memilih sekolah yang jaraknya dekat dengan rumah.
“Karena kan biasanya kerika kelas satu orang tua akan ikut mengantar dan menjemput anak-anaknya, itu jadi salah satu pertimbangan orang tua mencari sekolah yang dekat,” ujarnya.
Janjusi mengatakan, untuk wilayah-wilayan yang tinggi peminataannya, pihaknya tengah mengupayakan agar adanya penegrian sekolah, salah satunya di Desa Cikande Permai.
“Kita lagi mengkaji mencari lokasi-lokasi yang sekiranya memungkinkan, terutama di wilayah Cikande sih yang memang ya lagi sangat dibutuhkan untuk ruang kelas baru. Karena di situ kan pertumbuhan penduduknya luar biasa padat,” tegasnya.
Editor: Mastur Huda











