CILEGON,RADARBANTEN.CO.ID–Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) menggelar Pelatihan Penanganan Kondisi Darurat dan Muatan Berbahaya di Atas Kapal di Ballroom The Royale Krakatau, Kota Cilegon, Rabu 8 Oktober 2025.
Kegiatan ini menjadi langkah nyata Gapasdap dalam meningkatkan kesadaran keselamatan pelayaran, terutama terhadap ancaman dari muatan berbahaya dan kendaraan listrik yang kian masif diangkut antar pulau.
Ketua Umum Gapasdap, Khoiri Soetomo, menjelaskan, pelatihan ini digelar sebagai respons atas maraknya kecelakaan kapal yang disebabkan oleh muatan berlebih (over dimension over load atau ODOL) serta barang berbahaya (dangerous goods).
“Padahal, aturan tentang ODOL sudah ada sejak 2009 lewat Undang-undang Nomor 22 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), tapi pelaksanaannya terus ditunda hingga 2027,” ujar Khoiri.
Khoiri bahkan menyebut dirinya tidak yakin bahwa batas waktu 2027 itu tidak akan ditunda lagi. Ia menyoroti lemahnya pengawasan terhadap muatan truk yang membawa bahan kimia mudah terbakar atau meledak.
“Sekarang juga muncul tantangan baru, yaitu meningkatnya mobilitas kendaraan listrik—mulai dari mobil, sepeda, hingga skuter—yang sebagian besar berasal dari industri rumah tangga tanpa safety device memadai,” paparnya.
Menurut Khoiri, keselamatan merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya operator kapal. Ia menegaskan, pengguna jasa justru memegang peranan penting dalam menjaga keselamatan pelayaran.
“Kapal kami sudah memenuhi standar regulasi internasional dan domestik. Tapi kalau muatan yang dibawa ODOL sampai 100 bahkan 200 persen, itu luar biasa. Dan sayangnya, ini sudah jadi rahasia umum,” tegasnya.
Khoiri juga menyinggung hasil rilis tahunan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang selalu mencatat faktor muatan berlebih dan barang berbahaya sebagai penyebab utama kecelakaan di laut.
“Gapasdap tidak bisa berpangku tangan menunggu pemerintah. Karena itu, kami berinisiatif melakukan pelatihan ini, bekerja sama dengan KNKT dan didukung penuh oleh Jasa Raharja melalui anak perusahaannya, Jasa Raharja Putra,” jelasnya.
Ia menambahkan, pelatihan ini merupakan kali keempat yang difokuskan pada isu keselamatan kendaraan listrik di atas kapal. Ke depan, kegiatan serupa akan diperluas ke wilayah timur seperti Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB).
“Mereka (wilayah timur) sudah menyampaikan permintaan pelatihan langsung di lapangan. Kegiatan ini memang harus dilakukan fisik agar peserta memahami situasi nyata di kapal,” ujarnya.
Reporter : Adam Fadillah
Editor: Agung S Pambudi











