LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Di tengah geliat pembangunan pusat Pemerintahan Kabupaten Lebak, masih ada wilayah yang luput dari sentuhan infrastruktur jalan yang layak. Kondisi ini terjadi di Kampung Sadang, Desa Sukadaya, Kecamatan Cikulur.
Ketimpangan pembangunan ini dirasakan oleh warga Kampung Sadang selama puluhan tahun.
Kampung yang berjarak sekitar 13 kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Lebak itu belum memiliki akses jalan memadai.
Selama hampir 40 tahun, warga Kamoung Sadang hanya mengandalkan jalan tanah yang berlumpur jika hujan, sebagai satu-satunya akses keluar masuk permukiman.
Jalan sepanjang kurang lebih satu kilometer yang juga menjadi akses utama pertanian warga mengalami kerusakan parah.
Saat hujan turun, jalan berubah menjadi kubangan lumpur. Licin dan menyulitkan aktivitas harian warga.
Bagi Maman, warga Kampung Sadang, kondisi tersebut bukan hal baru. Ia mengaku, ikut membuka jalan kampung sejak 1980. Namun, hingga kini nyaris tak ada perubahan berarti.
“Sudah puluhan tahun saya tinggal di sini. Jalannya enggak pernah beres. Padahal jalan ini enggak panjang-panjang amat, tapi dari dahulu enggak pernah benar-benar diperhatikan baik oleh pemerintah desa maupun pemerintah Kabupaten Lebak,” kata Maman saat berada di jalan yang rusak, pada Rabu, 21 Januari 2026.
Ia menuturkan, pergantian pemimpin tidak membawa dampak nyata bagi kampungnya. Jalan yang seharusnya menjadi urat nadi warga justru menjadi sumber persoalan sehari-hari.”Pejabat mah sering gonta-ganti. Setiap pemilu kami juga selalu nyoblos. Tapi kalau hasilnya begini, rasanya seperti ditipu,” ujarnya.
Kondisi jalan semakin menyulitkan saat musim hujan. Anak-anak sekolah harus berangkat dengan seragam penuh lumpur, sementara aktivitas ekonomi dan pertanian ikut terhambat.
“Kalau hujan, benar-benar tersiksa. Mau ke pasar susah, mau kerja susah, setiap bawa hasil panen padi juga sulit, ongkos membengkak. Bahkan beberapa bulan lalu, istri saya pulang dari rumah sakit harus ditandu. Tetangga yang mau melahirkan juga sama, ditandu,” tutur Maman.
Ia menyebutkan, Kampung Sadang hanya dihuni sekitar 16 rumah dengan puluhan kepala keluarga. Meski kecil, dampak keterisolasian dirasakan penuh oleh warga.”Yang paling kasihan itu anak-anak sekolah. Setiap hari mereka harus berjuang lawan lumpur,” tandasnya.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Desa Sukadaya, Cecep Sutisna, mengakui keterbatasan anggaran desa menjadi kendala utama pembangunan.
“Sejak dulu sebenarnya sudah kami ajukan, tetapi belum juga terealisasi. Apalagi sekarang dana desa dipangkas hingga 70 persen, sehingga praktis tidak ada pembangunan tahun ini,” ujar Cecep.
Ia berharap ada dukungan anggaran dari pemerintah daerah agar akses jalan Kampung Sadang bisa segera dibangun.
Editor: Agus Priwandono











