SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Dengan perjuangan dan semangat yang begitu gigih, seorang anak yang lahir dan tumbuh dari perkampungan di Cilegon, kini berhasil menjadi profesor. Dia adalah Hasani Ahmad Said, lahir dari perjuangan panjang akan kegigihan menuntut ilmu. Terlahir dari seorang ayah yang berprofesi sebagai bengkong kampung.
Siapa sangka, beberapa hari lagi (13/7), si anak ke-11 dari 12 bersaudara itu akan dikukuhkan menjadi guru besar, profesor kepakaran Tafsir Maqashidi.
Hasani lahir pada 21 Februari 1982, 44 tahun lalu di Pabean Kecamatan Kecamatan Purwakarta Kota Cilegon. Pabean merupakan wilayah lembah yang dikelilingi perbukitan dan sawah-sawah.
Hasani dilahirkan dalam keluarga Islam yang cukup kental dengan kondisi ekonomi yang sangat sederhana. Meskipun anak kampung, sedari kecil mimpinya memang sudah besar.
Hasani mengejar mimpinya dengan kegigihannya menuntut ilmu yang dimulai dari pesantren, hingga menempuh pendidikan di perguruan tinggi yang diselesaikan dengan sangat mudah, yang puncak akhirnya sekarang meraih gelar profesor, gelar tertinggi di dunia akademik.
Hasani menempuh jalan panjang sebagai penggemar ilmu. Petualangannya sebagai penggemar ilmu dimulai dari Pondok Pesantren Nurul Qomar (sekarang; Banu Al Qomar), di sinilah cara pandangnya tentang masa depan berubah menjadi semakin luas, bahwa ilmu adalah salah satu jalan yang bisa merubah hidupnya.
Setelah menyelesaikan ngajinya di pesantren dan sekolah di Madrasah Al-Khairiyah Karangtengah, Hasani melanjutkan studinya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Di kampus inilah ia menempa hidupnya menjadi mahasiswa, menjalani kehidupan akademis, dengan membaca ratusan buku, berdiskusi dan menulis, serta menamatkan studi strata 3-nya di kampus yang sama.
Hasani kemudian memulai karier dosennya di UIN Raden Intan Lampung, yang kemudian bermutasi ke UIN syarif Hidayatullah Jakarta sampai saat ini.
Tulisan-tulisannya dikenal banyak pembaca di dunia akademis. Karya-karyanya diterbitkan dalam banyak jurnal, buku dan proseding. Ratusan pembaca telah menjadikan karyanya rujukan akademis. Tidak heran bila Hasani dikenal sebagai salah satu dosen dan juga ketua program studi Ilmu Tasawuf di UIN Jakarta yang produktif dan berhasil di bidang akademik.
Penulis: Lina Sobariyah (Alumni Madrasah Al-Khairiyah Karang Tengah)











