PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Sebanyak sembilan siswa SDN Padahayu 2 asal Kampung Cingenge, Desa Padahayu, Kecamatan Cikedal, Kabupaten Pandeglang, setiap hari harus menyeberangi aliran Sungai Cipunten Agung untuk menuju sekolah.
Mereka terpaksa menyeberangi sungai dengan lebar sekitar 26 meter karena tidak adanya jembatan penghubung. Jembatan bambu yang sebelumnya digunakan warga hanyut diterjang banjir beberapa tahun lalu dan hingga kini belum kembali dibangun.
Kondisi tersebut menjadi perhatian publik setelah aktivitas para siswa menyeberangi sungai viral di media sosial. Menindaklanjuti hal itu, Bupati Pandeglang Raden Dewi Setiani, Dandim 0601/Pandeglang, Gubernur Banten, serta Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Pandeglang Sutoto meninjau langsung lokasi.
Berdasarkan hasil peninjauan, tidak hanya akses jembatan yang menjadi kebutuhan mendesak, tetapi juga bangunan SDN Padahayu 2 yang mengalami kerusakan berat dan membutuhkan rehabilitasi.
Sutoto mengatakan, perbaikan ruang kelas SDN Padahayu 2 telah masuk dalam skala prioritas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk dilaksanakan pada tahun ini.
Sementara itu, pembangunan jembatan juga telah diusulkan oleh Kodim 0601/Pandeglang dan Pemerintah Provinsi Banten. Tim teknis Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Banten pun telah melakukan survei dan pengukuran sebagai persiapan pembangunan jembatan gantung.
“Alhamdulillah kami dapat mengunjungi Kampung Cingenge. Jumlah penduduknya cukup banyak, namun menghadapi kesulitan akses bagi anak-anak menuju sekolah,” kata Sutoto kepada Radar Banten, Kamis, 30 Juli 2026.
Menurutnya, ketiadaan jembatan membuat sembilan siswa harus berjalan kaki dan menyeberangi Sungai Cipunten Agung setiap hari untuk menuju SDN Padahayu 2.
“Aktivitas menyeberangi sungai ini tentu sangat berbahaya, apalagi saat debit air meningkat. Namun selama ini anak-anak mendapat pendampingan dari Ibu Suminah dan Pak Ade,” katanya.
Suminah merupakan alumnus SDN Padahayu 2 yang kini juga mengantar anaknya bersekolah di tempat yang sama. Hampir setiap hari ia turut mendampingi anak-anak saat menyeberangi sungai.
“Jumlah siswa yang setiap hari menyeberangi sungai menuju sekolah sebanyak sembilan orang. Hal ini terjadi karena akses jembatan terputus setelah jembatan bambu hasil swadaya masyarakat hanyut diterjang banjir,” ujarnya.
Akibat tidak adanya jembatan, jumlah siswa asal Kampung Cingenge yang bersekolah di SDN Padahayu 2 terus menurun. Jika sebelumnya mencapai sekitar 50 siswa, kini hanya tersisa sembilan siswa. Sebagian lainnya memilih bersekolah di sekolah lain yang lebih mudah dijangkau.
“Ruang kelas yang mengalami kerusakan sudah masuk prioritas untuk direnovasi. Untuk pembangunan jembatan, kami juga telah bertemu dengan tim dari Dinas PUPR Provinsi Banten untuk melihat langsung kondisinya,” katanya.
Sutoto berharap pembangunan jembatan dapat segera direalisasikan karena keberadaannya sangat penting untuk menjamin keselamatan anak-anak saat berangkat maupun pulang sekolah, terutama ketika debit air sungai meningkat.
“Terkait jembatan, dari TNI sudah melakukan survei. Kemudian Dinas PUPR Provinsi Banten juga sudah melakukan survei. Sedangkan untuk rehabilitasi sekolah, mudah-mudahan Agustus 2026 sudah bisa dimulai,” katanya.
Ia menambahkan, keberadaan jembatan tidak hanya akan mempermudah akses pendidikan, tetapi juga memperlancar mobilitas masyarakat dan membuka keterisolasian wilayah.
Warga Kampung Cingenge, Suminah, berharap pembangunan jembatan dapat segera direalisasikan.
“Sehingga akses menuju SDN Padahayu 2 menjadi lebih aman, nyaman, dan kondusif. Selama ini anak-anak harus melewati aliran sungai yang berpotensi membahayakan keselamatan mereka saat berangkat maupun pulang sekolah,” katanya.*
Editor : Krisna Widi Aria











