SERANG,RADARBANTEN.CO.ID–Ternyata, masih banyak pemuda di Banten yang jomblo alias belum menikah. Berdasarkan data Sensus Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2022 yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS), lebih dari 50 persen pemuda di Banten masih jomblo atau belum menikah.
Dari Statistik Pemuda Banten tahun 2022 yang dirilis BPS Provinsi Banten pada Agustus lalu, jumlah pemuda di Banten sekitar 3,3 juta jiwa atau hampir seperempat atau 24,97 persen penduduk Banten.
Namun, dalam tiga tahun terakhir persentase penduduk usia 16 sampai 30 tahun ini terus mengalami penurunan.
Persentase pemuda di perdesaan lebih tinggi dibandingkan perkotaan yaitu 26,30 persen berbanding 24,52 persen. Sedangkan dari sisi gender, persentase pemuda laki-laki lebih tinggi dari perempuan yakni 25,26 persen berbanding 24,67 persen.
BPS juga merilis, pada tahun 2022, terdapat 66,4 persen pemuda Banten atau mencapai 2,19 juta orang yang belum kawin. Sementara, pemuda yang berstatus kawin sekitar 32,78 persen pemuda 1,08 juta orang.
Namun ada juga pemuda Banten yang berstatus cerai hidup/cerai mati yakni sebesar 0,83 persen. Meski pun jumlah pemuda laki-laki lebih tinggi daripada perempuan, tapi pemuda perempuan yang menikah lebih banyak daripada laki-laki.
Persentase pemuda laki-laki yang sudah menikah yakni sebesar 22,50 persen atau 493 ribu orang, sedangkan pemuda perempuan yang sudah menikah yakni sebesar 43,66 persen atau 956 ribu orang.
Apabila dibandingkan menurut wilayah, pemuda di perdesaan yang menikah lebih banyak dibandingkan di perkotaan. Di wilayah perdesaan persentase pemuda yang sudah menikah yakni sebesar 38,10 persen, sedangkan di perkotaan 30,86 persen.
Hasil Susenas Maret 2022 juga menunjukkan bahwa terdapat 8,84 persen pemuda yang menjadi kepala rumah tangga. Di wilayah perkotaan, pemuda yang menjadi kepala rumah tangga lebih sedikit daripada di perdesaan.
Persentase pemuda laki-laki yang menjadi kepala rumah gangga sangat mendominasi hingga mencapai enam belas kali lipat dari pemuda perempuan.
Pengaruh budaya dan adat istiadat di Indonesia yang menganggap laki-laki pada umumnya merupakan pencari nafkah dan tulang punggung bagi rumah tangganya diasumsikan masih sangat melekat. (*)
Reporter: Rostinah
Editor: Agung S Pambudi











