LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID- Sejumlah pengusaha dan perajin arang kayu di Kabupaten Lebak, terancam gulung tikar akibat kesulitan mendapatkan bahan baku kayu arang. Kelangkaan kayu membuat proses distribusi arang terganggu. Ketiadaan kayu sebagai bahan utama pembakaran telah membuat banyak pengrajin mengurangi produksi bahkan berhenti sementara.
Kesulitan mendapatkan kayu, membuat para pengusaha dan pengrajin arang di Kabupaten Lebak, kini juga menghadapi masalah serius. Kelangkaan bahan baku kayu menjadi ancaman usaha pailit atau mengancam kebangkrutan. Padahal menjelang Idul Adha arang sedang tinggi permintaannya dari masyarakat untuk kebutuhan memanggang.
Nurhidayah, seorang pengrajin arang kayu asal Kampung Hasem, Desa Muncang Kopong, Kecamatan Cikulur, mengatakan sudah dua kali membatalkan pengiriman arang ke pelanggan karena bahan baku arang.
“Dulu tinggal minta atau beli murah sama tetangga, sekarang harus pesan dari luar kampung dengan harga dua kali lipat,” katanya kepada RADARBANTEN.CO.ID, Jumat 6 Juni 2025.
Ia menyebutkan, satu mobil kayu yang sebelumnya hanya seharga Rp100 ribu kini bisa mencapai Rp250 ribu hingga Rp300 ribu, tergantung jenis kayu dan jaraknya.
“Belum lagi ongkos angkutnya. Kalau sudah begitu, buat kami pengrajin kecil jelas berat. Kalau dijual, harganya tidak bisa nutup biaya produksi,” keluh Nurhidayah.
Selain mahal, pasokan kayu juga tidak bisa datang setiap saat. Dalam sebulan, ia hanya bisa produksi arang sebanyak satu atau dua kali. “Biasanya kami produksi seminggu dua kali. Tapi sekarang bisa sampai dua minggu sekali tergantung kayunya ada atau tidak. Kadang sudah pesan, eh malah gagal kirim karena sopirnya tidak mau masuk ke jalan kampung,” jelasnya.
Menurut ketergantungan pada kayu alam tanpa solusi regenerasi tanaman menjadi persoalan jangka panjang. Mereka berharap ada program dari pemerintah untuk menanam kembali jenis-jenis pohon yang bisa digunakan sebagai bahan baku arang. “Kalau tidak ada reboisasi, ya habis semua bahan baku. Kami bisa tutup selamanya,” ujarnya.
Nurhidayah bahkan mengusulkan agar ada kerja sama antara pemerintah desa dengan petani untuk menyediakan lahan khusus tanam kayu bakar. “Seperti hutan rakyat, tapi khusus untuk produksi arang. Kami bisa ikut rawat dan beli hasilnya,” katanya penuh harap
Kelangkaan kayu ini, jika tidak segera ditangani, berpotensi mematikan industri arang rumahan di Lebak. Dengan minimnya alternatif usaha dan keterbatasan akses modal, banyak pengrajin mengaku tidak tahu harus beralih ke bidang apa. “Kami ini bukan pengusaha besar. Kalau arang mati, ya kami ikut mati,” pungkas Nurhidayah.
Reporter : Nurandi











