PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Stasiun Menes merupakan salah satu stasiun kereta api nonaktif yang berada di Desa Menes, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang. Stasiun Menes masuk dalam pengelolaan wilayah penjagaan aset PT KAI Daops 1 Jakarta.
Stasiun di lintas kereta api Rangkasbitung-Labuan ini dahulu merupakan stasiun yang cukup ramai, bahkan lebih ramai daripada Stasiun Pandeglang.
Tercatat sebanyak 44.678-89.014 orang penumpang dan 237-901 ton barang yang diangkut per tahun dari Stasiun Menes antara tahun 1950-1953.
Stasiun ini dibangun pada tahun 1906 oleh perusahaan kereta api Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS), dan pada masa penjajahan Belanda, lintasan ini berada di bawah pengelolaan Staatsspoor- en Tramwegen (Westerlijnen) (SS-WL).
Stasiun Menes ditutup pada tahun 1982, bersamaan dengan penghentian lintas kereta Rangkasbitung-Labuan.
Meskipun nonaktif, bangunan Stasiun Menes dan gudangnya masih ada dan dimanfaatkan sebagai tempat tinggal, menjadikannya sebuah cagar budaya.
Salah satu warga Menes, Indra Hermawan berharap, pemerintah segera melaksanakan reaktivasi jalur kereta api Rangkasbitung-Labuan.
“Agar kami warga Menes bisa kembali naik kereta api saat akan pergi ke wilayah kota Pandeglang maupun ke Rangkasbitung,” katanya kepada Radarbanten.co.id, Jumat, 3 Oktober 2025.
Indra menjelaskan, kehadiran kereta api akan turut mendorong peningkatan ekonomi masyarakat. Sebab, salah satu ciri daerah maju ialah kemudahan transportasi.
“Misalnya saja Jakarta, itu maju karena semua alat transportasi lengkap. Ada pelabuhan, ada bandara, dan juga banyak stasiun kereta,” katanya.
Dengan reaktivasi jalur kereta api Rangkasbitung-Labuan, ia berharap, Stasiun Menes dioperasikan lagi.
“Namun tidak hanya sampai Pandeglang tapi sampai Labuan. Agar kami di Menes juga bisa merasakan kemajuan dari kehadiran kereta api,” katanya.
Editor: Agus Priwandono











