Berawal dari informasi. Katanya, dapur-dapur MBG butuh roti. Untuk salah satu sajian menunya.
Di situ saya melihat peluang. Tapi bukan semata soal bisnis. Saya juga melihat hal lain.
Banyak ibu-ibu yang tidak punya kegiatan. Tidak punya uang, walau hanya untuk memberi jajan anak.
Banyak juga laki-laki yang kepala rumah tangga, juga anak-anak muda, yang menganggur. Mereka butuh penghasilan.
Termasuk keluarga dari karyawan di Radar Banten. Tempat saya bekerja selama ini. Saya ingin mereka punya aktivitas -punya penghasilan.

Bukan sesuatu yang besar. Cukup ada kegiatan. Cukup ada penghasilan.
Karena kalau bicara mengurangi pengangguran, rasanya terlalu berat.
Data Badan Pusat Statistik pada November 2025 mencatat,
tingkat pengangguran terbuka di Banten berada di kisaran 6,6 persen.
Itu setara dengan sekitar 412 ribu orang yang belum bekerja.
Angka yang besar. Terlalu besar untuk Banten yang daerah industri. Dan terlalu besar untuk diselesaikan oleh usaha kecil. Apa lagi oleh kegiatan seperti ini.
Tapi mungkin..bisa dimulai dari ruang kecil.
Dari beberapa orang dulu. Dari satu kegiatan sederhana.
Dari situ, sekira pertengahan tahun 2025. Saya mulai mengajak beberapa teman.
Belum punya modal dan belum membahas modal. Tapi kami punya niat.
Konsepnya sederhana. Pemberdayaan. Memberi ruang.
Agar orang bisa bergerak. Agar ada aktivitas. Agar ada penghasilan, walaupun tidak besar.
Lalu dibentuklah KUB. Kelompok Usaha Bersama.
Bidangnya satu: membuat roti untuk dipasok ke dapur MBG.
Saya menjadi pembina.
Tapi dalam pikiran saya, pembina tidak boleh hanya memberi arah. Harus ikut jalan.
Maka kami mulai. Membuat roti.
Trial berkali-kali. Ada yang gagal. Ada yang mulai mendekati. Lalu gagal lagi.
Kadang terasa sudah bisa. Besoknya kembali tidak jadi.
Kami sempat berpikir, mungkin kurang ilmu.
Salah satu anggota kami ikut les singkat membuat roti. Kami berharap, setelah itu semuanya akan lebih mudah.
Ternyata tidak. Ilmu tidak otomatis jadi hasil.
Yang membuatnya berhasil bukan sekadar tahu caranya. Tapi terus mencoba.
Tekun. Teliti. Betul-betul dikeloni. Tahap demi tahap.
Bahkan, hal kecil yang sering dianggap sepele, justru jadi penentu.
Dan…akhirnya kami bisa.
Rasanya enak, teksturnya lembut. Sudah banyak yang memuji rasanya. Sudah banyak yang dijual. Termasuk ke SPPG. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi.
Tapi ya itu, banyak SPPG yang penting harga murah. Rasa terserah.
Kami tidak hanya membuat roti untuk MBG. Kami juga punya yang premium. Untuk yang tidak peduli harga. Yang penting rasa.
Dalam perjalanan itu, saya mulai sadar..yang kami buat bukan hanya roti.
Kami sedang mencoba membuka ruang.
Ruang untuk belajar. Ruang untuk mencoba. Ruang untuk gagal, lalu bangkit lagi.
Mungkin hasilnya belum besar. Mungkin belum banyak yang berubah. Tapi setidaknya, ada yang mulai bergerak.
Ada yang mulai punya aktivitas. Ada yang mulai merasakan, bahwa mereka bisa menghasilkan sesuatu.
Dan saya juga belajar..bahwa memberdayakan orang lain, ternyata tidak jauh berbeda dengan membuat roti.
Tidak bisa buru-buru. Tidak bisa dipaksa.
Harus sabar. Harus teliti. Harus dikeloni. Harus percaya pada proses.
Karena setiap orang, seperti adonan itu..punya waktunya masing-masing untuk berkembang.











