Biasanya, yang mudah menyatukan orang adalah kesulitan. Orang merasa senasib. Merasa punya luka yang sama. Merasa ada keadaan yang sama-sama harus diperjuangkan. Dari situ lahir kedekatan.
Dari situ juga sering tumbuh persahabatan.
Tapi tidak semua persahabatan lahir dari kesulitan.
Ada juga yang lahir dari pertemuan biasa. Di tempat biasa. Dengan obrolan yang awalnya juga biasa-biasa saja. Lalu berjalan. Mengalir. Tanpa banyak janji. Tanpa seremoni. Tahu-tahu menjadi dekat.
Seperti persahabatan saya dengan Mas Amin. Kami pertama kali dipertemukan di sebuah restoran di Bogor. Waktu itu kami berempat. Satu orang lagi bisa saya sebut sultan. Tapi tidak akan saya ceritakan lebih jauh. Saya belum izin memasukkan namanya dalam tulisan ini.
Yang pasti, dan yang saya tahu, ia memang sultan. Produknya banyak digunakan di Indonesia. Di rumah tangga, di perusahaan, di mana-mana. Kalau saya sebut mereknya, Anda mungkin langsung tahu.
Tapi tulisan ini bukan tentang dia.
Tulisan ini tentang Mas Amin.
Usianya jauh di bawah saya. Beda generasi. Tapi kalau bicara komitmen persahabatan, jangan ditanya. Saya yakin orang seperti Mas Amin banyak. Orang baik yang tidak banyak bicara. Orang yang kalau mau membantu, ya membantu saja. Tidak banyak tanya. Tidak menunggu diminta. Tidak pula menghitung untung rugi. Dalam urusan persahabatan, Mas Amin ini sebelas dua belas dengan sahabat saya yang sultan tadi.
Tidak seperti penggalan lagu Rhoma Irama yang berjudul Sahabat. “Mencari teman memang mudah, apabila untuk teman suka. Mencari teman tidak mudah, apabila untuk teman duka.”
Mas Amin seperti membantah sebagian syair itu. Ia bukan hanya hadir ketika suasana enak. Ia juga datang ketika tahu ada sesuatu yang sedang dikerjakan. Apalagi kalau ia merasa punya kemampuan untuk membantu.
Dua minggu lalu, Mas Amin sengaja datang ke Serang. Ke Graha Pena. Kantor tempat saya sehari-hari bekerja.
Ia biasa parkir di halaman belakang. Ia juga tahu kebiasaan saya. Kalau datang ke kantor, ia tidak akan langsung mencari saya ke ruangan kerja. Sebab ia tahu, saya justru lebih sering tidak berada di ruangan itu.
Ruangan kerja saya memang besar. Tapi saya jarang di sana. Kecuali untuk menerima tamu atau rapat dengan para manajer. Selebihnya, saya bisa ada di mana saja. Kadang di depan. Kadang di belakang. Kadang di area parkir. Kadang di tempat orang sedang bekerja.
Hari itu, setelah berbulan-bulan tidak datang ke Serang, Mas Amin melihat ada yang berubah di halaman Graha Pena.
Ada satu bangunan kecil yang warna catnya berubah. Ada tanaman baru. Ada pot-pot bunga yang ditata. Ada meja. Ada kursi. Ada kesibukan kecil yang mengundang tanda tanya.
Mas Amin langsung menuju ke tempat itu.
Saya memang sedang ada di sana. Berdiri bersama teman-teman. Sesekali berdiskusi. Sesekali memberi arahan. Mana pot yang harus digeser. Mana meja yang kurang pas. Mana tanaman yang harus dipindah. Mana sudut yang masih terlihat kosong.
Saya ingin semuanya terlihat rapi. Enak dipandang. Tidak berlebihan. Tapi juga tidak asal jadi. Membayangkan orang datang lalu merasa nyaman.
Sampai kemarin pun, saya masih merasa ada yang belum pas. Dilihat lagi. Diangkat lagi. Dipindah lagi. Ditukar posisinya. Kadang hanya beda beberapa sentimeter, tapi rasanya bisa sangat berbeda.
Belum menyerah. Akan terus ditata sampai mendekati yang kami inginkan.
Tempat itu sedang kami siapkan sebagai tempat alternatif untuk ngopi. Lokasinya persis di area parkir Graha Pena Banten. Berhadap-hadapan dengan kantor BPJS Ketenagakerjaan. Tepat di bawah pohon jati besar, pohon mangga, dan pohon sukun.

Begitu sampai, Mas Amin langsung protes.
“Pak, mau bikin tempat ngopi kok nggak ngabarin? Kan Bapak tahu saya. Kenapa nggak telepon? Saya langsung meluncur.”
Saya melihat wajahnya. Ada kecewa. Ada protes. Ada rasa seperti dilupakan.
Padahal saya tahu, kalau diberi tahu, ia pasti datang. Ia pasti membantu. Apalagi urusan ini memang dekat dengan dunianya.
Mas Amin punya kafe. Ia lama belajar soal minuman. Bukan hanya kopi. Tapi juga minuman lain yang biasa ada di kafe. Yang panas. Yang dingin. Yang ringan. Yang serius. Yang kelihatannya sederhana, tapi kalau salah racik bisa membuat orang tidak kembali lagi.
Hari itu juga, Mas Amin langsung mengambil laptop. Pulpen. Kertas.
Ia mulai bertanya. Apa saja yang sudah ada. Apa saja yang belum ada. Peralatan apa yang tersedia. Bahan apa yang sudah dibeli. Gelasnya bagaimana. Mesin kopinya seperti apa. Grinder-nya ada atau belum. Takaran sudah disiapkan atau belum.
Ia cek satu per satu. Kesimpulannya: banyak yang belum ada. Lalu ia mencatat semuanya.
Dua hari kemudian, Mas Amin datang lagi. Tidak hanya datang. Ia membawa peralatan dan perlengkapan yang belum ada. Termasuk bahan kopi.
Ia langsung mengetes. Sambil melatih barista. Ia contohkan dulu. Cara menggiling biji kopi. Cara menakar. Cara membuat kopi susu. Cara membuat latte. Cara membuat cappuccino. Cara menjaga rasa agar tidak berubah-ubah.
Di sela-sela itu, ia tetap memberi catatan.
“Alat yang ada sementara cukup, Pak. Tapi ke depan harus ganti. Kita lihat perkembangan dulu.”
Lalu ia menggiling biji kopi. Aromanya keluar. Menyebar. Membuat tempat yang belum resmi buka itu tiba-tiba terasa seperti sudah lama hidup.
“Ini kopi yang sangat direkomendasikan. Banyak yang suka. Kita coba,” katanya.
Ia meminta beberapa orang di Radar Banten ikut mencicipi. Berbagai rasa dicoba. Berbagai jenis kopi dibuat. Ada yang panas. Ada yang dingin. Ada yang manisnya harus dikurangi. Ada yang susunya harus disesuaikan. Ada yang kopinya harus dibuat lebih kuat.
Mas Amin tidak hanya bicara soal menu.
Ia bicara soal alasan orang datang kembali.
“Satu Asa Coffee tempatnya sudah bagus. Tapi jangan hanya menjual tempat dan fasilitas. Kita harus punya ciri khas. Kopinya harus enak. Bikin orang datang bukan hanya karena mau nongkrong.
Bukan hanya karena mau menikmati musik. Bukan hanya karena mau nonton bareng.”
Ia benar. Satu Asa Coffee memang punya layar lebar ukuran 5 x 3 meter. Untuk ukuran kafe, itu bukan fasilitas kecil. Mas Amin sendiri bilang, “Muter-muter di Banten, saya belum ketemu layar sebesar ini.”
Tapi ia tetap mengingatkan hal yang paling dasar. Pelanggan harus kembali karena rasa. Bukan semata karena suasana. Bukan semata karena tempatnya nyaman. Bukan semata karena ada live music. Bukan semata karena bisa nonton bola di layar besar.
Kalau rasa kopinya tidak punya karakter, orang mungkin datang sekali. Foto-foto. Duduk sebentar. Lalu pulang. Setelah itu tidak kembali. Bagi penikmat kopi, rasa adalah alasan utama untuk kembali.
Sejak hari itu, Mas Amin hampir tiap dua atau tiga hari sekali datang ke Satu Asa Coffee. Dari Depok ke Serang. Bukan jarak yang dekat. Tapi ia jalani. Memastikan persiapan matang.
Memastikan rasa kopi punya kelas. Memastikan ada kekhasan.
Itu tidak mudah.
Sebab barista profesional pun belum tentu bisa membuat kopi yang bikin orang ingin kembali. Kopi bukan hanya soal alat. Bukan hanya soal biji. Bukan hanya soal resep. Kopi juga soal rasa yang konsisten.
Mas Amin memang suka berpetualang dari satu kafe ke kafe lain. Terutama di Tangerang, Jakarta, Bogor, Depok, dan Bandung. Ia datang ke tempat yang direkomendasikan. Ia datangi juga tempat yang sedang viral. Ia coba semuanya.
Ada yang membuatnya kembali. Ada yang tidak.
Bukan karena tempatnya jelek. Kadang tempatnya sangat bagus. Dekorasinya mahal. Lampunya indah. Sudut fotonya banyak. Tapi kalau rasa tidak meninggalkan kesan, ia tidak punya alasan untuk datang lagi.
Saya pernah bertanya kepadanya.
Kenapa sering memilih tempat yang premium dan modern? Jawabannya sederhana. Tapi menusuk. “Pak, saya ini dari kampung. Dulu makan di restoran saja susah.” Saya tertawa. Tapi saya paham maksudnya.
Kami memang punya latar belakang ekonomi yang pas-pasan. Mas Amin mungkin lebih baik dari saya. Tapi kami sama-sama berasal dari kampung yang jauh dari keramaian.
Kampung saya bahkan sampai tahun 2000-an seperti tidak jelas warnanya di peta. Saya sering bilang kepada teman-teman, kampung saya itu kampung yang tidak ada di peta.
Bukan bercanda. Itu realita. Saat itu, mayoritas pendidikan masih rendah. Jangankan bicara universitas. Pada tahun 1990-an, melanjutkan ke SMA saja masih seperti kemewahan. Motor juga masih barang mewah.
Sekarang tentu sudah sangat berbeda.
Saya termasuk salah satu yang beruntung. Orangtua dan kakek saya, almarhum, sangat mengutamakan pendidikan. Mungkin karena dulu mereka juga pernah sekolah.
Kakek saya sekolah di sekolah Belanda. Ayah saya sekolah Indonesia. Sekolah Rakyat. Lalu melanjutkan ke SMEP, Sekolah Menengah Ekonomi Pertama. Jaraknya sekitar 45 kilometer dari rumah.
Ibu saya hanya sampai Sekolah Rakyat.
Dalam urusan sekolah, saya juga merasa beruntung.
Saya tidak mengalami seperti kisah Ali dan Zahra dalam film Children of Heaven. Kakak beradik yang terpaksa memakai sepatu secara bergantian. Zahra sekolah pagi memakai sepatu Ali yang ukurannya kebesaran. Ali tidak bisa berangkat sebelum Zahra pulang. Sebab sepatu mereka hanya satu. Ayah mereka, Karim, bekerja serabutan. Ibunya, Fatimah, sakit. Hanya di rumah mengurus si bungsu.
Kalau ingin tahu cerita lengkapnya, tonton saja film itu. Film sederhana, tapi bisa membuat kita lama diam setelah selesai menontonnya.
Mungkin karena sama-sama tahu rasanya tumbuh dari tempat yang tidak mudah, saya dan Mas Amin bisa cepat nyambung.
Kami sama-sama paham: ketika hidup memberi kesempatan, jangan hanya dinikmati sendiri. Sesekali, jadilah jalan kecil bagi orang lain.
Itulah yang saya lihat dari Mas Amin.
Ia tidak hanya datang membawa kopi. Ia datang membawa perhatian. Ia datang membawa pengalaman. Ia datang membawa waktu. Ia datang membawa tenaga. Ia datang membawa rasa memiliki.
Bagi saya, itu mahal.
Hasil dari latihan, bolak-balik Depok-Serang, serta pengorbanan Mas Amin itu membuat Satu Asa Coffee sekarang lebih percaya diri.
Kami siap menyajikan kopi panas dan dingin. Coffee latte. Kopi susu gula aren. Black coffee. Cappuccino. Matcha. Dan beberapa menu lain yang sudah disiapkan.
Tentu di daftar menu, namanya tidak saya tulis seperti itu. Ada nama-nama yang sudah kami pilih. Sengaja belum saya bocorkan sekarang.
Biar ada sedikit rasa penasaran.
Yang jelas, kalau penasaran, datang saja.
Hari Sabtu, 13 Juni, Satu Asa Coffee mulai buka dari pukul 16.00 WIB.
Datanglah. Ngopi. Duduk. Menikmati suasana. Menonton di layar besar. Mendengarkan musik. Atau sekadar ngobrol ringan di bawah pohon jati, pohon mangga, dan pohon sukun.
Setelah itu, kita buktikan bersama apa yang dikatakan Mas Amin.
Bahwa kafe boleh punya tempat bagus. Boleh punya fasilitas lengkap. Boleh punya layar besar. Boleh punya panggung. Tapi pada akhirnya, yang membuat orang kembali adalah rasa.
Kalau saya sih, sudah mencobanya.
Dan saya hanya bisa bilang: yes, yes, yes. (*)










