Coba tanyakan kepada orang-orang di rumah. Adakah yang tahu Curaçao? Adakah yang tahu Cape Verde, atau Tanjung Verde?
Mungkin sebagian akan menggeleng. Sebagian lagi mungkin mengira Curaçao adalah nama minuman. Atau tempat wisata. Atau pulau kecil yang jauh entah di mana.
Padahal, dua nama itu tampil di Piala Dunia 2026. Curaçao menarik perhatian karena jumlah penduduknya tidak sampai 200 ribu jiwa. Lebih kecil daripada banyak kecamatan di Indonesia. Cape Verde juga tidak besar. Penduduknya sekira 500 ribuan jiwa.
Di Indonesia, tidak ada satu pun provinsi dengan jumlah penduduk di bawah 500 ribuan. Termasuk provinsi-provinsi baru hasil pemekaran di Papua. Di situlah menariknya. Dua negara kecil itu membuat kita terpaksa menoleh.
Mereka bukan negara maju. Bukan negara kaya raya. Penduduknya pun tidak banyak. Tetapi mereka berhasil datang ke panggung yang selama ini hanya kita tonton dari layar kaca.
Curaçao memang tidak lolos dari penyisihan grup. Mereka berada di Grup E bersama Jerman, Ekuador, dan Pantai Gading. Tetapi kehadiran Curaçao saja sudah menjadi cerita.
Bayangkan sebuah negara kecil, yang jumlah penduduknya bahkan tidak sampai 30 persen Kota Serang, tiba-tiba namanya disebut dalam siaran Piala Dunia.
Benderanya muncul di layar. Lagu kebangsaannya diputar.
Para pemainnya berdiri sejajar dengan pemain-pemain dari negara besar. Mereka kalah, tetapi sudah terlanjur meninggalkan cerita.
Cape Verde melangkah lebih jauh. Negara kecil di Samudra Atlantik itu berada di Grup H bersama Spanyol, Uruguay, dan Arab Saudi. Dalam debutnya di Piala Dunia 2026, Cape Verde lolos ke babak 32 besar. Tidak terkalahkan di fase grup. Menahan imbang Spanyol. Menahan imbang Uruguay. Menahan imbang Arab Saudi. Bagi negara sebesar Cape Verde, itu bukan sekadar hasil pertandingan. Itu pesta nasional.

Mungkin bagi kita, lolos ke babak 32 besar hanya statistik. Bagi mereka, itu mungkin cerita yang akan diceritakan kepada cucu-cucu mereka.
Kita sering mengatakan Indonesia negara besar. Penduduknya lebih dari 280 juta jiwa. Artinya, jumlah penduduk Indonesia sekitar 560 kali lebih banyak dibanding Cape Verde. Bahkan lebih dari 1.500 kali dibanding Curaçao.
Kalau dihitung secara sederhana, peluang menemukan anak berbakat semestinya jauh lebih besar. Kita tidak kekurangan potensi. Lapangan sepak bola ada hampir di setiap desa. Anak-anak masih bermain bola setiap sore.
Di jalan kampung, lapangan sekolah, tanah kosong, hingga gang-gang sempit. Liga profesional kita sudah berjalan bertahun-tahun. Klub-klub memiliki basis suporter luar biasa. Stadion penuh. Hak siar bernilai tinggi. Sponsor berdatangan. Uang juga bukan sedikit.
Memang tidak semua klub sehat. Tetapi dibanding Cape Verde atau Curaçao, kita jelas memiliki sumber daya yang jauh lebih besar.
Lalu mengapa Piala Dunia masih terasa begitu jauh bagi Indonesia?
Pertanyaan itu layak terus diajukan. Bukan untuk saling menyalahkan. Tetapi agar kita tidak cepat puas hanya karena peringkat FIFA naik beberapa tingkat atau mampu memberi perlawanan kepada beberapa negara Asia. Kemajuan itu patut disyukuri. Tetapi mimpi kita seharusnya lebih besar daripada sekadar naik peringkat.
Faktanya, sejak pertama kali mengikuti kualifikasi Piala Dunia pada 1958, Indonesia belum pernah tampil. Satu-satunya catatan keikutsertaan terjadi pada 1938, saat masih bernama Hindia Belanda. Itu terlalu lama. Terlalu panjang untuk bangsa yang mengaku sangat mencintai sepak bola.
Sementara itu, Jepang sudah menjadi langganan Piala Dunia sejak 1998. Korea Selatan sudah tampil belasan kali dan bahkan pernah mencapai semifinal. Arab Saudi berkali-kali lolos. Iran berkali-kali lolos. Australia hampir selalu hadir. Kini Uzbekistan ikut bergabung walau tidak lolos 32 besar.
Negara-negara itu tidak semuanya lebih kaya dari Indonesia. Tidak semuanya memiliki penduduk lebih banyak. Tetapi mereka mempunyai satu kesamaan. Mereka membangun dengan sabar. Mereka membangun akademi, memperbaiki kompetisi, menyiapkan pelatih, dan menjaga sistem tetap berjalan, siapa pun ketua federasi dan pelatih tim nasionalnya. Mereka tidak sibuk mengejar kemenangan hari Minggu.
Mereka menyiapkan kemenangan sepuluh tahun kemudian. Di situlah mungkin letak pelajarannya. Kita tidak sedang kekurangan pemain. Kita sedang kekurangan sistem yang cukup sabar untuk menemukan, merawat, dan membesarkan mereka.
Sepak bola tidak cukup dibangun dengan keramaian. Tidak cukup dengan stadion penuh. Tidak cukup dengan suporter militan. Tidak cukup dengan komentar panjang setelah pertandingan selesai. Sepak bola dibangun dari hal-hal yang sering tidak terlihat.
Dari latihan anak-anak yang tidak masuk televisi. Dari pelatih usia dini yang jarang disebut namanya. Dari akademi yang bekerja dalam sepi. Dari kompetisi yang rapi. Dari keputusan yang konsisten. Dari kesabaran yang tidak selalu mendapat tepuk tangan.
Jumlah penduduk bisa melahirkan banyak pemain. Tetapi hanya sistem yang baik yang melahirkan tim nasional. Cape Verde mengajarkan itu.
Curaçao juga mengingatkan hal yang sama. Negara kecil pun mampu membuat dunia menoleh. Bukan karena luas wilayahnya. Bukan karena jumlah penduduknya. Melainkan karena prestasinya.
Saya membayangkan malam ketika Cape Verde memastikan tiket ke babak gugur.
Orang-orang memenuhi jalan. Pawai kemenangan. Bendera berkibar. Anak-anak berteriak. Orang tua, muda, berpelukan. Mungkin ada yang menangis. Bukan karena mereka menjadi juara dunia. Tetapi karena akhirnya mereka melihat nama negaranya berdiri sejajar dengan negara-negara besar.
Itulah kemenangan yang sesungguhnya. Bukan sekadar lolos ke babak berikutnya. Melainkan berhasil membuat seluruh rakyat bersorak untuk tim negaranya sendiri. Bukan untuk Brasil. Bukan untuk Argentina. Bukan untuk Spanyol. Bukan untuk Inggris. Bukan juga untuk Prancis. Tetapi untuk Cape Verde.
Saya berharap suatu hari nanti, Indonesia merasakan malam seperti itu. Malam ketika jutaan orang turun ke jalan bukan karena tim favorit luar negeri menjadi juara. Melainkan karena Merah Putih berhasil berdiri di panggung terbesar sepak bola dunia. Karena cita-cita terbesar bangsa yang mencintai sepak bola bukanlah menjadi penonton paling fanatik. Melainkan menjadi peserta yang ditunggu dunia.
Mungkin kita memang tidak bisa menambah jumlah penduduk Cape Verde. Tetapi kita bisa belajar dari cara mereka membangun mimpi. Sebab pada akhirnya, Piala Dunia tidak pernah memilih negara yang paling besar. Piala Dunia memilih negara yang paling siap. Membangun. Bukan hanya berharap. (*)










