CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Seorang orang tua calon peserta didik baru di Kota Cilegon mengaku kecewa karena sertifikat prestasi olahraga milik anaknya tidak dapat digunakan saat mendaftar melalui Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) jalur prestasi di SMA Negeri.
Padahal, anaknya merupakan peraih medali perunggu pada ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) XII Banten. Namun, sertifikat tersebut tidak dapat diinput saat proses pendaftaran di salah satu SMA Negeri di Kota Cilegon.
Aeni Sumira, warga Kelurahan Tegalwangi, Kecamatan Grogol, mengatakan anaknya memiliki sekitar 10 sertifikat penghargaan dari berbagai perlombaan. Salah satunya merupakan sertifikat juara III POPDA XII Banten.
Menurut Aeni, sebelum penutupan pendaftaran jalur Prestasi Nonakademik pada 2–3 Juli 2026, dirinya telah mendatangi sekolah agar sertifikat POPDA tersebut dapat dimasukkan sebagai tambahan nilai prestasi.
“Anak saya ikut POPDA dan Alhamdulillah dapat juara tiga. Sebelum pendaftaran terakhir saya datang supaya sertifikat POPDA itu bisa dimasukkan,” ujarnya.
Namun, pihak sekolah menyampaikan sertifikat tersebut tidak dapat diinput karena sistem milik Dinas Pendidikan Provinsi Banten telah ditutup dan tidak dapat dibuka kembali.
“Kata mereka tidak bisa karena sistem dari Dindik Banten sudah ditutup,” katanya.
Aeni menjelaskan, pelaksanaan POPDA berlangsung setelah tahapan Pra-SPMB selesai. Akibatnya, sertifikat prestasi yang diperoleh anaknya belum sempat dimasukkan saat proses pendataan awal.
Ia kemudian mencoba mendatangi SMAN 2 Krakatau Steel agar sertifikat tersebut dapat digunakan. Namun, upaya itu juga tidak membuahkan hasil karena anaknya telah mengikuti Pra-SPMB di SMA Negeri Cilegon.
“Saya ke SMAN 2 KS juga tidak bisa karena katanya Pra-SPMB anak saya di SMAN 1 Cilegon,” tuturnya.
Saat pendaftaran jalur prestasi dibuka, posisi anaknya sempat berada di peringkat kelima. Namun, seiring bertambahnya jumlah pendaftar, peringkat tersebut terus bergeser hingga akhirnya tidak lolos seleksi.
“Awalnya urutan kelima, lalu jadi ketujuh, kesepuluh, dua belas, sampai malam urutan ke-18. Besoknya sekitar jam setengah 11 siang nama anak saya sudah hilang, tidak diterima,” ungkapnya.
Menurut Aeni, apabila sertifikat POPDA tersebut dapat diinput, peluang anaknya untuk bertahan di jalur prestasi akan lebih besar.
Bahkan, apabila tidak diterima di sekolah tujuan awal, sertifikat tersebut masih dapat dimanfaatkan untuk mendaftar ke sekolah lain.
“Saya cuma ingin sertifikat POPDA anak saya bisa dimasukkan. Siapa tahu kalau tidak diterima di SMAN Cilegon masih bisa diterima di sekolah lain dengan tambahan nilai itu,” katanya.
Ia juga membandingkan pengalaman anaknya dengan rekan yang sama-sama mengikuti POPDA. Menurutnya, rekannya yang mendaftar ke SMAN 2 Krakatau Steel dapat menginput sertifikat POPDA dan akhirnya diterima melalui jalur prestasi.*
Editor : Krisna Widi Aria











