PERISTIWA lima tahun silam saat menjalin hubungan asmara, menjadi masa yang tak terlupakan oleh Bedu (32), nama samaran. Sang calon istri, sebut saja Marni, yang sudah lebih dari lima tahun dipacari oleh pria asal Serang ini, dengan mudahnya berpaling kepada pria lain yang baru dikenalnya.
Pria itu tak lain adalah anak dari rekan kerja orangtuanya yang memang sengaja dikenalkan kepada Marni. Perjodohan itu dipicu lantaran orangtua Marni tidak setuju putrinya berhubungan dengan Bedu. Alasannya, status pekerjaan Bedu hanya karyawan biasa di sebuah restoran.
Yang lebih mengejutkan lagi, Marni menyetujui perjodohan itu. Marni merasa yakin bahwa pria pilihan orangtuanya bisa lebih membahagiakan dikehidupannya kelak ketimbang Bedu. Wajar, selain lebih mapan dan lebih tampan, sang pria pilihan orangtua ternyata pasukan berseragam alias anggota kepolisian. Sudah pasti, dengan status yang disandang calon suaminya itu, memiliki jaminan masa depan.
Kondisi itu, membuat Marni memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Bedu dan dengan terang-terangan mengaku sudah tidak cinta lagi. Tapi kok bisa begitu ya? Gampang banget lunturnya cinta Marni sama Mas Bedu?
“Saya juga kaget, enggak menyangka. Soalnya, kita sudah mau menikah loh, tinggal menghitung hari,” kupasnya.
Keluarga Bedu juga tidak ada yang menyangka sama sekali jika Marni tega berbuat seperti itu. Keputusan pahit yang dilontarkan Marni begitu mendadak. Padahal, undangan pernikahan mereka sebagian sudah tersebar, bapak penghulu juga sudah dipesan. Apa kata dunia?
Bak diterpa badai topan, Bedu berikut keluarga besar sudah dibuat malu setengah mati oleh Marni. Yang lebih memilukan, mereka sudah setahun menyandang status bertunangan. Bahkan, Bedu sudah menyiapkan rumah siap huni untuk mereka berdua usai menikah nanti. Walaupun rumah didapat dari KPR bersubsidi untuk 15 tahun cicilan.
Meski begitu, Bedu sepertinya sudah bermimpi jika di dalam rumah yang dicicilnya itu, bisa terbangun rumah tangga yang bahagia. “Tadinya, saya pikir bisa hidup selamanya bersama Marni, di mana dua anak di dalamnya kelak ikut meramaikan suasana,” harap Bedu. Oh so sweet.
Namun sayang, semua itu kini tinggal kenangan. Bedu juga heran, sikap Marni setelah meminta putus seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Seperti tidak punya rasa bersalah, santai, dan terlihat wajar. Sikap yang ditunjukkan Marni dinilai Bedu tidak biasanya. “Pokoknya, sudah bukan seperti Marni yang saya kenal,” tegasnya.
Saat mendengar kata putus dari mulut manis Marni. Hati Bedu bagai teriris-iris. Sakit rasanya, sampai Bedu tak sanggup menahan uraian air mata membasahi pipinya.
Tenaga bedu mendadak melemah, pikiran Bedu seketika kosong begitu menyadari bahwa apa yang diucapkan Marni bukanlah mimpi di siang bolong. Dengan terpaksa, Bedu harus menerima kenyataan yang mengenaskan itu. Bedu meyakini, sampai tujuh turunan delapan tanjakan, sakit hatinya akibat ulah Marni, tidak akan mudah hilang.
“Pas Marni bilang begitu (putus-red), hati saya remuk. Dalam hati, mimpi apa ya! Soalnya, rasa sayang saya buat Marni terlalu dalam. Sudah hampir enam tahun kita pacaran,” keluhnya.
Mundur ke belakang, kisah cinta Bedu dan Marni berawal dari sebuah pertemanan. Sesama karyawan di salah satu restoran di Serang, mereka berdua jadi sering saling curhat, jalan bareng, pulang dan pergi kerja bareng, nonton bareng, tapi tidak untuk tidur bareng. Soalnya, Bedu termasuk orang yang konsekuen, menjaga kehormatan wanita yang ia paling sayangi. Kalau selain Marni? “Hajar dong, namanya juga laki-laki,” akunya. Buset dah, ternyata buaya juga. Setelah beberapa bulan berteman, Bedu memberanikan diri untuk menyatakan cinta duluan. Marni pun terkena panah asmara Bedu.
Betapa senangnya hati Bedu saat itu. Hubungan mereka pun semakin lama semakin mendalam. Jarang sekali ada pertengkaran di antara keduanya selama pacaran. Padahal kata orang, pacaran lama itu buat bosan. Tapi tidak dengan Bedu dan Marni. Mereka malah semakin menikmati masa-masa memadu kasih dengan status pacaran. Bahkan, mereka tidak canggung lagi untuk memanggil mama dan papa kepada calon mertua masing-masing. Orangtua Bedu maupun Marni juga tidak pernah mempermasalahkan jika Bedu dan Marni berada di kamar berdua atau sampai menginap. Berbuat apa tuh berdua di kamar? “Enggak berbuat apa-apa kok Mas. Paling cuma ciuman. Wajar kan?” ungkapnya. Wajar jidatmu. Nanti ada setan ikut nimbrung baru tahu rasa.
Tidak adanya kekhawatiran itu disebabkan kedua orangtua sudah saling percaya bahwa tidak akan terjadi hal-hal yang negatif di antara mereka. “Di rumah Marni, saya sudah kayak rumah sendiri, begitu pun Marni di rumah saya. Jadi, sudah enggak ada lagi yang ditutupi dari kita. Kedua orangtua juga mendukung,” terangnya. Pokoknya, hubungan mereka termasuk best couple of the year lah saat itu, benar-benar romantis.
Bedu tak sadar di balik itu, orangtua Marni ternyata kurang simpati terhadap Bedu. Namun, mereka pintar berpura-pura di depan Bedu karena tidak ingin menyinggung perasaan Marni. Keseriusan Bedu diperlihatkan dengan mengajak Marni menikah. Diawali pertunangan dengan prosesi tukar cincin yang masih direstui orangtua Marni. Sejak itu, Bedu berupaya menabung dan mulai berhemat untuk biaya pernikahan, serta mengumpulkan uang untuk DP rumah hanya untuk Marni seorang.
Lima tahun sudah mereka berpacaran. Suatu ketika, Marni sudah tidak pernah lagi datang ke rumah Bedu sampai seminggu lamanya. Bedu mencoba menelepon dan SMS Marni, tak pernah lagi dibalas.
“Aneh kan? Kita tidak pernah ada masalah sedikit pun, tapi tiba-tiba Marni menghilang begitu saja,” katanya.
Bedu tidak langsung curiga. Awalnya, Bedu berpikir kalau Marni sedang sakit. Sampai akhirnya, Bedu mendatangi rumah Marni. Setibanya di rumah Marni, tak dinyana Bedu malah tidak dipedulikan oleh orangtuanya Marni. Bedu yang mulai merasa tidak enak perasaan dan penasaran, langsung meminta dipanggilkan Marni untuk minta penjelasan. Sampai akhirnya, Marni mau keluar dari kamar dan menunjukkan batang hidungnya.
Saat keluar dari kamar, tanpa banyak bicara Marni langsung mengungkapkan satu kata yang meremukkan hati Bedu, yaitu putus dan menerima pinangan pilihan orangtuanya, seorang pria berseragam yang tampak lebih gagah.
“Sakitnya tuh di sini. Tapi, mau bagaimana lagi, saya harus terima kenyataan,” ucapnya.
“Marni keluar kerja. Sampai sekarang sudah enggak pernah bertemu tuh. Tapi cincin tunangan enggak dikembalikan dia,” gurau Bedu.
Sejak peristiwa itu, hampir dua tahun Bedu tidak bisa move on. Namun atas dorongan orangtua dan rekan-rekannya, Bedu akhirnya menemui tambatan baru. Kini, Bedu sudah berkeluarga dan mempunyai satu anak laki-laki yang lucu.
“Alhamdulillah, sudah ada gantinya dan menurut saya lebih baik daripada Marni,” tegasnya. Tuh kan, semua juga pasti ada hikmahnya di balik itu. Ya salam. (Nizar S/Radar Banten)








