SERANG – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) Provinsi Banten dan BNI Kanwil Jakarta BSD menggelar Developer Gathering yang berlangsung di RM Sari Banten, Kota Serang, Rabu (23/10). Gathering itu dihadiri sekira 70 pengembang dari berbagai daerah.
Ketua DPD REI Banten Roni Hadiriyanto Adali mengatakan, kegiatan itu merupakan silaturahmi antara anggota REI Banten dengan bank pelaksana kredit kepemilikan rumah (KPR), salah satunya BNI. Dalam silaturahmi tersebut, REI Banten memberikan informasi mengenai program Fasilitas Likuditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang kuotanya sudah habis sehingga pengembang tidak bisa menjual rumah. Pada kegiatan itu juga disampaikan program yang bisa tetap dijalankan, yakni Bantuan Pembiayaan Perumahaan Berbasis Tabungan (BP2BT).
Menurutnya, program BP2BT ini, konsumen hanya menyediakan uang muka satu persen dari harga rumah yang dibeli. Sementara sisa uang muka akan mendapatkan bantuan dari Bank Dunia. “Dalam sosialisasi ini, pengembang bisa memanfaatkan berbagai penawaran dari BNI untuk mempermudah pelaksanaan BP2BT,” katanya.
Program BP2BT, lanjut Roni, sudah ada perbankan yang merealisasikan sehingga dapat mendorong pengembang dan perbankan lain, seperti BNI, untuk melakukan hal serupa. BP2BT ini sebagai alternatif program yang bisa ditawarkan kepada konsumen. “Kuotanya juga cukup banyak,” katanya.
Ia menambahkan, pada November mendatang, pemerintah akan kembali merealisasikan kuota tambahan rumah subsidi sebanyak 14.000 unit di seluruh Indonesia. Kuota itu diambil dari jumlah kuota rumah subsidi FLPP untuk 2020 yang mencapai 100.000 unit sehingga, akan tersisa 86.000 unit. Selain itu, pada 2020 akan ada kuota program BP2BT sebanyak 100.000 unit.
“Total tahun depan akan ada 186.000 unit rumah subsidi baik FLPP maupun BP2BT yang disediakan pemerintah,” katanya.
Head of Consumer Retail BNI Kanwil Jakarta BSD Beby Lolita Indriasari mengatakan, kegiatan bersama REI Banten dan pengembang dalam rangka sosialisasi program rumah subsidi, yakni Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT). Program tersebut merupakan alternatif atau pengganti dari program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang kuotanya habis. “Pengembang perlu tahu tentang adanya perubahan mengenai BP2BT,” katanya.
Ia mengungkapkan, komunikasi yang baik dengan para pengembang perlu terus ditingkatkan. Pertemuan dengan pengembang sekaligus memang jarang seperti ini, tetapi kalau dengan pengurus REI intens dilakukan. “Para pengembang yang hadir bukan saja yang bekerja sama dengan BNI, tetapi juga pengembang yang belum,” katanya.
Selain sosialisasi, BNI memiliki beragam program kredit perumahan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, misalnya program profesi tertentu dengan suku bunga yang terjangkau. “Saat ini, keberadaan produk Griya BNI juga mendapatkan respons positif dari konsumen karena suku bunga terjangkau mulai 6,75 persen fixed dua tahun pertama dan cicilan mulai dari Rp1 jutaan,” katanya. (skn/aas/ira)









