SERANG – Sejumlah calon kepala desa incumben kalah pada kontestasi pemilihan kepala desa (Pilkades) Kabupaten Serang. Beberapa di antaranya merupakan calon kades yang tak asing lagi di Kabupaten Serang.
Calon kades yang kalah di Pilkades di antaranya Ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Kabupaten Serang Santibi yang kembali mencalonkan diri di Desa Kareo, Kecamatan Jawilan. Kemudian, Tamimi atau Haji Mimi di Desa Curug Goong, Kecamatan Padarincang. Tamimi merupakan Mantan Ketua Harian Ikatan Motor Indonesia (IMI) Banten.
Lalu, Istri Anggota DPRD Kabupaten Serang Ahmad Zaini bernama Encin Kursinah yang mencalonkan diri di Pilkades Dahu, Kecamatab Cikeusal. Encin merupakan calon kades incumben di desa tersebut. Lalu, di kecamatan lainnya juga sejumlah calon incumben bertumbangan.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Rudy Suhartanto mengatakan, pihaknya belum menerima hasil resmi Pilkades dari masing-masing desa. Kata dia, laporan itu diterima usai panitia di tingkat desa dan kecamatan melakukan pleno penetapan hasil Pilkades.
Namun, informasi yang diterima Rudy, banyak calon incumben yang kalah. Jumlahnya, mencapai 50 persen. “Incumben banyak yang kalah, data pastinya saya belum terima,” katanya kepada Radar Banten di kantornya, Senin (1/11).
Rudy mengatakan, banyaknya calon incumben yang berguguran bukan hal yang baru di Pilkades. “Pilkades sebelumnya juga sama, tapi bedanya tahun ini banyak calon kades yang ngetop yang kalah,” ujarnya.
Menurutnya, banyaknya incumben yang kalah bukan karena atas dasar ketidak percayaan masyarakat. Namun, karena kendali kekuatan keluarga. “Pilkades itu dasarnya bukan percaya atau tidak percaya, tapi seberapa besar kekuatan keluarganya, makanya jangan heran calon yang bodoh belum tentu kalah, calon pintar juga belum tentu menang,” ucapnya.
Kemudian, kata dia, pemunduran waktu pencoblosan Pilkades yang sempat terjadi lebih dari dua bulan juga menjadi salah satu penyebabnya. “Karena perpanjangan waktu yang seharusnya itu menjadi kesempatan untuk lebih menguatkan, akan tetapi mereka terlena hingga peta politiknya berubah, itu bisa saja terjadi,” pungkasnya. (Abdul Rozak)











