RADARBANTEN.CO.ID – Pada awalnya, debus berfungsi sebagai sarana untuk menyebarkan ajaran Islam, kemudian berkembang digunakan sebagai media untuk memompa semangat rakyat Banten dalam menghadapi penjajahan Belanda pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Seiring dengan melemahnya Kasultanan Banten di bawah kekuasaan Sultan Rafiudin, kesenian ini sempat menghilang. Kesenian debus muncul lagi pada tahun 1960-an, dan sampai sekarang berfungsi sebagai sarana hiburan.
Saat ini, debus memang menunjuk pada satu kesenian yang memanifestasikan kekuatan tubuh terhadap sentuhan senjata atau benda tajam dan pukulan benda keras di Banten.
Debus menjadi salah satu seni tradisional yang ditampilkan Provinsi Banten pada agenda Temu Karya Taman Budaya (TKTB) se-Indonesia.
Tahun ini UPTD Taman Budaya dan Museum Negeri Banten kembali mengikuti TKTB. Pada perhelatan akbar ke-XXI ini, Kontingen Provinsi Banten menampilkan karya kolaborasi seni tradisional Terbang Gede, Rudat, Pencak Silat, Rampak Bedug dan Debus yang diberi tajuk “Terus Bagus”. (adv)











