Perjalanan Ibadah Haji merupakan perjalanan yang suci. Maka dari itu ada baiknya jika perjalanan ke Tanah Suci didasari dengan hati yang suci pula. Hal tersebut bisa dilakukan dengan meminta maaf secara terbuka kepada saudara, kerabat dan tetangga yang hadir supaya memaafkan dari kesalahan dan perbuatannya semasa hidupnya.
Ibnu ‘Umar pernah mengatakan pada seseorang yang hendak bersafar, “Mendekatlah padaku, aku akan menitipkan engkau sebagaimana Rasulullah SAW menitipkan kami, lalu beliau berkata: “Astawdi’ullaha diinaka, wa amaanataka, wa khowaatiima ‘amalik (Aku menitipkan agamamu, amanahmu, dan perbuatan terakhirmu kepada Allah)”. (HR. Tirmidzi)
Walimatus safar merupakan tradisi turun temurun yang sudah lama ada di Indonesia. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian Doa yang dipanjatkan agar memohon keselamatan dan keberkahan dalam melaksanakan Rukun islam yang terakhir itu.
Ada 3 aspek yang harus terus dilaksanakan dalam menjaga kemabruran hajinya, seperti Aspek Kepribadian, artinya hendaknya terus berupaya melestarikan amalan yang sudah dilaksanakan selama di Tanah Suci Makkah, Aspek Ubudiyah, seperti meningkatkan kualitas sholat fardu, melaksanakan sholat dan puasa sunnah, membiasakan tilawah Qur’an dan menumbuhkan sifat peduli terhadap pakir miskin, serta Aspek Sosial, seperti membiasakan diri sholat berjamaah, menyantuni anak yatim dan mendamaikan orang yang sedang berselisih.
Semoga kemabruran haji ini dapat mendorong diri kita menjadi lebih baik dari sebelumnya, dan mampu melestarikan nilai-nilai ibadah haji dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara, “Mudah-mudahan para jemaah haji memperoleh predikat mabrur, karena tidak ada balasan yang lebih pantas bagi mereka kecuali syurga.
Semoga bermanfaat.

Dr. KH. Encep Safrudin Muhyi, MM,M.Sc adalah Kepala Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam Kanwil Kementerian Agama Provinis Banten, Penulis Buku Islam Dalam Transformasi Kehidupan& Buku Kepemimpinan Pendidikan Transformasional.











