SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Seluruh Direksi dan Komisaris PT Jamkrida Banten diberhentikan pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Jumat, 7 Juli 2023.
Padahal, berdasarkan RUPS Tahunan, lembaga penjamin plat merah ini sudah mencetak laba Rp 7,57 miliar pada tahun 2022. Tiga kali lipat dibandingkan laba pada tahun 2021.
Direktur PT Jamkrida Banten, Ahmad Rohendi mengungkapkan, pada 2021 lalu Jamkrida Banten mencetak laba Rp 2,6 miliar.
“Sedangkan tahun 2022, labanya Rp 7,57 miliar,” ujar Rohendi di kantor PT Jamkrida Banten, Senin, 10 Juli 2023.
Selain itu, lanjutnya, jumlah terjamin pada 2022 yakni 231.312, sedangkan pada 2021 169.066.
Untuk volume penjaminan juga mengalami peningkatan. Pada tahun 2021 sebesar Rp 1,27 triliun dan pada tahun 2022 sebesar Rp 2,12 triliun.
Untuk aset, Rohendi mengatakan, ada peningkatan dari Rp 275 miliar pada 2021 menjadi Rp 492 miliar pada 2022.
Kontribusi Jamkrida Banten berupa dividen juga terus mengalami peningkatan. Tahun 2022, Jamkrida memberikan deviden sebesar Rp 2,5 miliar untuk Pemprov Banten.
Tahun lalu, PT Banten Global Development (BGD) tidak mengambil dividen sekira Rp 349 juta.
“Tidak diambil tapi dialokasikan untuk cadangan,” ujarnya.
Kata dia, dividen tahun 2022 lebih besar dibandingkan tahun 2021.
Pada 2021, dividen untuk Pemprov dan BGD yakni Rp 1,893 miliar. Besaran dividen untuk Pemprov yakni 91 persen.
Selain dividen, ia juga mengatakan, Jamkrida Banten juga memiliki kontribusi untuk pembangunan berupa penyerapan tenaga kerja dari penjamin kredit produktif.
“Ada 144.672 usaha mikro yang terjamin. Dengan asumsi satu usaha mikro menyerap tiga tenaga kerja, maka ada 434.016 tenaga kerja yang terserap,” ujarnya.
Pada kesempatan itu, Rohendi juga mengungkapkan, tingkat kesehatan perusahaan PT Jamkrida Banten pada 2022 sangat sehat dengan nilai 1,35. Dari empat indikator, mayoritas kriterianya sangat baik.
“Ada satu yang baik yakni gearing ratio karena total nilai penjaminan Rp 2,12 triliun sedangkan ekuitas Rp 71,84 miliar. Sehingga nilainya 30. Tahun 2021, kita dapat sangat baik, tapi karena total nilai penjaminan naik terus tapi ekuitas tidak, maka apabila diumpamakan itu seperti mobil, jadi berat. Dengan mesin 1.500 CC tapi harus lari kencang,” terang Rohendi.
Rohendi juga menjadi salah satu direksi yang diberhentikan. Namun, Rohendi masih aktif selama masa transisi sampai ada kepengurusan yang baru. (*)
Reporter: Rostinah
Editor: Agus Priwandono











