RADARBANTEN.CO.ID – Sejak awal Januari 2025, publik heboh dengan viralnya video pagar laut yang ‘tiba-tiba’ ada di pesisir Kabupaten Tangerang.agar misterius itu berupa bambu-bambu yang ditancapkan ke dasar laut. Dari permukaan akan terlihat susunan bambu yang rapat membentuk pagar sepanjang 30KM. Tentu untuk membuat pagar sepanjang puluhan kilometer, dibutuhkan batang bambu yang tidak sedikit, bahkan diperlukan jutaan batang bambu.
Tapi lepas dari segala perbincangan dan kehebohan soal pagar laut itu, yang menarik juga untuk dibahas adalah bambu itu sendiri. Banyak catatan akademis yang menyatakan bambu sudah lama dipergunakan sebagai salah satu material dalam konstruksi bangunan. Di Hongkong, sering terlihat konstruksi bambu dalam pembangunan pencakar langit.
Daniel Pecina-Lopez dalam artikelnya yang dimuati pada laman sustainable cities mengatakan bahwa bambu lebih ringan dari baja, tapi lima kali lebih kuat dari beton. Bambu, kata Lopez, dapat dianggap sebagai hadiah dari alam untuk konstruksi karena biayanya yang rendah, keberlanjutan, kelimpahan, dan kekuatannya.
Sementara secara lebih teknis, Dody Irnawan dari Universitas Surakarta menyatakan bahwa bambu bisa lebih kuat dari beton dalam aspek kompresi. Aspek itulah, dikatakan Dody, merupakan sifat struktural yang baik untuk penggunaan konstruksi. Sifat mekanin bambu yang paling penting, tulis Dody, adalah memiliki kekuatan yang sama bahkan lebih tinggi dalam perbandingan atas rasio dengan material baja pada aspek kekakuan.
Pada Jurnal Rekan Karsa terbitan Jurusan Teknik Arsitek Itenas, Bandung yang dipublis pada Maret 2015 disebutkan bahwa berdasarkan penelitian, terdapat 143 jenis bambu di Indonesia. Di Pulau Jawa diperkirakan ada 60 jenis dengan 14 jenis diantaranya yang hanya tumbuh di Kebun Raya Bogor dan Cibodas. Bambu yang umumnya dipasarkan untuk digunakan sebagai material konstruksi bangunan adalah jenis Bambu Apus, Betung, Wulung, Duri, dan Gombong.
Sementara Deputi Pangan dan Agribisnis pada Kementrian Kordinator Ekonomi, Musdhalifah Machmud menyatakan dari 1.620 jenis bambu yag ada di dunia dan berasal dari 80 negara, 10 persennya memang berada di Indonesia. Bahkan 105 jenis bambu yang ada di Indoneisa merupakan tanaman endemik. Hal tersebut dinyatakan Musdhalifah saat berbicara pada FGD Strategi Nasional Pengembangan Bambu Terintegrasi,sperti dikutip dari laman ekon.go,id.
Bambu, katanya, bermanfaat bagi ekonomi, koneservasi, dan kebudayaan. Indonesia diperkirakan memiliki 1 juta hektar lebiih tanaman bambu. Namun pemerintah menyebutkan sejauh ini hanya 25.000 hektar yang telah dikelola dalam bentuk kebun atau hutan. Sisanya, katanya, tumbuh secara sporadis.
Sepanjang sejarah, Bambu memang telah digunakan sebagai material konstruksi. Selama ribuan tahun, terutama di daerah tropis dan subtropis di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, penggunaannya mencerminkan keunggulan bambu yang ringan, fleksibel, kuat, dan berkelanjutan. Secara tradisional, bambu memang telah menjadi material utama dalam pembangunan jembatan dan rumah di kawasan tersebut. Lalu mengikuti perkembangan teknologi, bambu ternyata tetap bisa digunakan bersama dengan material konstruksi lainnya semisal beton dan baja.
Maka tidak heran bila bambu kemudian digunakan dalam pembangunan kolosal di wilayah yang punya ketersediaan bambu yang melimpah seperti di Indonesia. Pada 2019, sebanyak 6 hingga 7 juta batang bambu digunakan dalam pembangunan Jalan Tol Semarang–Demak. Ini adalah proyek strategis nasional yang menghubungkan Kota Semarang dengan Kabupaten Demak di Provinsi Jawa Tengah. Dengan panjang total 26,95 kilometer, jalan tol ini dirancang untuk meningkatkan konektivitas dan mengatasi masalah banjir rob yang sering terjadi di kawasan tersebut.
Direktur Jenderal Bina Marga Rachman Arief Dienaputra saat overview pembangunan jalan tol Semarang – Demak mengatakan, pembangunan jalan tol Semarang – Demak sekaligus sebagai tanggul laut menggunakan teknologi matras bambu, cerucuk bambu dan Prefabricated Vertical Drain (PVD).
“Terkait dengan Matras Bambu merupakan hal pertama yang digunakan di Indonesia dan sebagai salah satu material konstruksi yang kita gunakan untuk membangun jalan tol di atas laut sekaligus berfungsi sebagai tanggul laut,” ujar Rachman Arief seperti dikutip dari laman binamarga.pu.go.id.
Bambu, akhirnya memang bukan hanya material konstruksi, tetapi juga simbol arsitektur berkelanjutan yang menghubungkan tradisi dengan inovasi. Masa depan bambu dalam konstruksi juga berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan akan material bangunan yang ramah lingkungan.(*)
Penulis : Krisna Widi Aria
Editor : Aas Arbi











