CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID — Kebutuhan logistik kebencanaan berupa buffer stock di tingkat kecamatan menjadi perhatian dalam perencanaan penanggulangan bencana di Kota Cilegon.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menilai penempatan buffer stock perlu mempertimbangkan efektivitas distribusi dan kondisi kerawanan wilayah.
Kepala BPBD Kota Cilegon, Damanhuri, mengatakan keberadaan buffer stock idealnya didukung oleh pemerintah kecamatan dan kelurahan.
Namun, penyediaannya tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi bencana di masing-masing wilayah.
“Untuk kebutuhan tergantung nanti titik bencananya, jadi tidak semua kelurahan atau kecamatan harus sama. Misalnya wilayah rawan seperti Ciwandan, Cibeber, Grogol, dan Citangkil,” ujar Damanhuri, Kamis 16 April 2026.
Ia menjelaskan, penentuan lokasi buffer stock juga masih menunggu kajian dari Bappeda, khususnya terkait kemampuan anggaran, termasuk kemungkinan penganggaran melalui dana pembangunan wilayah kelurahan (DPWKel).
Menurutnya, jika buffer stock ditempatkan di seluruh 43 kelurahan, hal itu dinilai kurang efektif. Ia lebih mendorong penempatan di tingkat kecamatan agar koordinasi dan pengawasan lebih mudah dilakukan.
“Saya kira kalau di kelurahan terlalu banyak. Lebih efektif di kecamatan, karena koordinasi kelurahan juga melalui kecamatan, jadi lebih mudah dimonitor,” jelasnya.
Sementara itu, Camat Ciwandan, Agus Ariyadi, menyampaikan bahwa kebutuhan buffer stock menjadi usulan prioritas dalam perencanaan tahun 2027.
Ia menilai keberadaan logistik di tingkat kecamatan akan mempercepat penanganan saat terjadi bencana.
“Kebutuhan dasar untuk 2027 itu buffer stock di kecamatan harus ada. Semua kecamatan mengusulkan,” katanya.











